10+ Upacara Adat Bali yang Memukau Wisatawan Domestik dan Mancanegara

Upacara Adat Bali yang Memukau Wisatawan Domestik dan Mancanegara

Upacara Adat Bali – Salah satu pesona Indonesia yang go international adalah Pulau Bali. Mengapa Pulau Bali begitu mempesona? Ya, karena keindahan dan kekayaan kebudayaannya, termasuk kekayaan budaya upacara adat di Bali.

Para wisatawan Pulau Bali, baik domestik maupun mancanegara, sangat tertarik dengan kekayaan aset Pulau Bali. Kekayaan Pulau Bali meliputi hasil alam, pesona pantai, kebudayaan, dan masih banyak yang lain lagi.

Setalah saya membahas Ragam Upacara Adat Jawa Tengah, maka pada artikel ini saya akan mengulik secara detail terkait macam-macam upacara adat Bali. Salah satu contoh upacara adat Bali adalah Ngaben.

Baiklah, agar semakin jelas dan mudah untuk dipahami, berikut ini saya akan mengulas setidakya 10 macam contoh upacara adat Bali. Simak hingga tuntas ya! Cekidot!

Nama Upacara Adat Bali

Sebelum masuk ke bagian penjelasan tentang upacara adat Bali, saya akan memberikan setidaknya 10 nama upacara adat Bali yang cukup fenomenal.

Apa saja 10 nama upacara adat Bali tersebut? Upacara Otonan, upacara Melasti, upacara Ngaben, upacara Omed-Omedan, upacara Mesuryak, upacara Tumpek Landep, upacara Piodalan, upacara Ngurek, upacara Mepandes, dan upacara Saraswati.

Adapun maksud dari upacara-upacara tersebut akan saya bahas tuntas pada bab berikut ini. Simak terus ya!

Contoh Upacara Adat Bali

Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas, upacara adat Bali setidaknya dapat kita kumpulkan sebanyak 10 macam. Apa saja itu? Yuk baca sampai tuntas ya!

1. Upacara Otonan

Upacara Otonan
google

Tradisi upacara adat Bali yang pertama kali akan saya bahas adalah upacara Otonnan. Upacara adat ini tergolong dalam upacara keagamaan. Masyarakat setempat biasanya menggelar upacara ini dalam rangka kelahiran seseorang.

Biasanya, mereka akan melaksanakan upacara Otonan ini ketika bayi sudah mencapai umur 6 bulan. Selanjutnya, mereka akan menggelar acara serupa setiap 6 bulan berikutnya, namun tentunya dengan upacara yang lebih kecil.

Menurut keyakinan masyarakat Bali, upacara adat Bali Otonan dapat menentukan watak seseorang. Konon, jika watak orang tersebut kurang baik maka mereka akan menyelenggarakan ulang upacara ini. Mereka melakukannya dengan harapan dapat merubah perilaku tersebut.

2. Upacara Melasti

Upacara Melasti
google

Masyarakat Bali menggelar upacara Melasti dalam rangka pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi umat Hindu di Bali. Mereka menggelar upacara ini setiap tahun, yaitu tiga hari menjelang perayaan Nyepi.

Lokasi pelaksanaan upacara Melasti ini adalah di pinggir pantai dengan dengan tujuan mensucikan diri dari keburukan masa lalu dan membuangnya ke laut.

Upacara Melasti menjadi momen pembersihan dan pensucian benda-benda sakral milik pura, pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya.

Masyarakat setempat biasanya akan mengarak benda-benda tersebut dan mengusungnya berkeliling desa dengan tujuan untuk mensucikan desa.

Dalam praktik pelaksanaan upacara adat Bali yang kedua ini, masyarakat akan membentuk beberapa kelompok berdasarkan wilayah atau desa asal.

Selanjutnya, setiap kelompok tersebut akan menuju ke sumber-sumber air berupa danau atau laut yang sudah ditetapkan. 

Berikutnya, para pemangku (tokoh adat) berkeliling sambil memercikkan air suci kepada seluruh warga yang datang beserta benda-benda peribadatan sekaligus menebarkan asap dupa sebagai bentuk pensucian.

Dalam rangkaian upacara Melasti ini terdapat berbagai macam sesajian sebagai simbol Trimurti (tiga dewa dalam Hindu), yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma beserta singgasananya (Jumpana).

Ketika menyambut perayaan Nyepi, upacara Melasti biasanya terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan wilayah masing-masing. Berikut ini rinciannya:

Ibukota porvinsi mendapatkan jatah upacara Tawur, tingkat kabupaten melaksanakan upacara Panca Kelud, tingkat kecamatan menggelar upacara Panca Sanak, tingkat desa merayakan upacara Panca Sata, tingkat banjar dengan upacara Ekasata, dan setiap rumah melakukan upacara di natar merajan (sanggah).

3. Upacara Ngaben

Upacara Ngaben
google

Upacara adat Bali selanjutnya adalah Ngaben. Masyarakat Bali menggelar upacara Ngaben dalam rangka pembakaran jenazah di Bali demi menyempurnakan jenazah.

Setidaknya upacara adat Ngaben terbagi menjadi tiga jenis, yaitu Ngaben Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana, dan Swasta.

Pelaksanaan upacara adat yang satu ini memakan biaya yang cukup besar. Itulah sebabnya tidak semua kalangan bisa menggelarnya. Hanya orang-orang kaya yang bisa menggelar upacara ini untuk keluarga. 

Dalam pelaksanaannya, masyarakat Bali membutuhkan waktu antara 3 sampai 7 hari. Namun sebelum memulai acara ini, mereka membutuhkan waktu hingga 1 bulan untuk persiapannya.

Keluarga dan panitia akan melakukan pengawetan jenazah tersebut selama 1 bulan. Upacara jenis ini sering mereka kenal dengan nama Ngaben Sawa Wedana.

Selain Ngaben Sawa Wedana, terdapat juga Ngaben Asti Wedana. Pelaksanaan upacara Ngaben yang satu ini berbeda dengan yang tadi.

Para panitia akan mengubur jenazah terlebih dahulu. Kemudian yang mereka bakar kelak adalah tulang belulangnya saja. Mengapa hal ini terjadi? Menurut keterangan beberapa pihak, hal ini sering terjadi karena kondisi ekonomi keluarga atau terdapat aturan adat desa yang mengikat.

Selanjutnya, jenis upacara Ngaben yang terakhir adalah upacara Swasta. Ngaben jenis ini khusus untuk jenazah yang meninggal di luar negeri, tempat yang jauh, atau mungkin jasadnya tidak ditemukan.

4. Upacara Omed-Omedan

Upacara Omed-Omedan
google

Selanjutnya, upacara adat Bali yang keempat adalah Omed-omedan. Masyarakat yang menggelar upacara tahunan ini adalah pemuda-pemudi dari Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan.

Kapan upacara Omed-omedan ini digelar? Mereka biasanya menggelar upacara ini setelah hari raya Nyepi atau pada hari ngembak geni untuk menyambut tahun baru Saka.

Kata Omed-omedan berasal dari bahasa Bali yang artinya “tarik-tarikan”. Tidak ada sumber yang mengetahui asal usul upacara ini secara pasti. Namun, upacara ini telah berlangsung lama dan mereka lestarikan secara turun temurun dari nenek moyang.

Dalam sebuah kisah terdapat catatan bahwa Omed-omedan berawal dari warga Kerajaan Puri Oka yang menghuni daerah Denpasar Selatan. Saat itu para warga desa menciptakan sebuah permainan tarik-menarik. Kemudian setelah beberapa waktu permainan ini berubah menjadi saling rangkul.

Tak lama setelah itu, suasana menjadi gaduh sehingga Raja Puri Oka yang sedang sakit keras pun marah-marah karena terganggu dengan suara gaduh tersebut.

Akan tetapi, ketika Sang Raja keluar dan melihat permainan Omed-omedan tersebut, dia justru sembuh dari penyakitnya. Aneh bukan ?! Xixi.

Dengan kesembuhan Sang Raja tersebut, dia memerintahkan agar permainan Omed-omedan dijadikan sebuah perayaan tahunan yang digelar pada setiap ngembak geni usai hari raya Nyepi.

Pada pelaksanaan upacara ini, panitia akan melibatkan pemuda-pemudi berumur 17 sampai 30 tahun yang belum menikah.

Mula-mula, upacara adat Bali Omed-omedan akan dimulai dengan bersembahyang bersama untuk memohon keselamatan.

Setelah acara sembahyang bersama, panitia membagi peserta menjadi dua kelompok, yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan.

Masing-masing kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Kemudian, setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok tersebut akan mulai tarik-tarikan.

Peserta yang mengikuti upacara ini berjumlah 40 laki-laki dan 60 perempuan. Sisa peserta akan menjadi cadangan pada tahap berikutnya. Permainan ini biasanya akan selesai ketika sore hari, sekitar jam 5 sore waktu setempat.

5. Upacara Adat Bali Mesuryak

Upacara Adat Bali Mesuryak
google

Jika ingin melihat upacara adat atau tradisi Mesuryak secara langsung, kamu bisa berkunjung ke Desa Bongan, Kabupaten Tabanan.

Tradisi Mesuryak berasal dari dari kata Suryak yang berarti “berteriak” atau “bersorak”. Konon tradisi ini merupakan peninggalan dari nenek moyang.

Menurut kepercayaan umat Hindu, para roh leluhur turun ke dunia pada Hari Raya Galungan dan kembali ke Nirwana pada Hari Raya Galungan.

Pelaksanaan upacara adat Mesuryak ini memiliki suatu tujuan menurut mereka, yaitu sebagai tanda penghormatan serta mengantar roh para leluhur kembali ke Nirwana dengan rasa suka cita.

Masyarakat setempat menggelar tradisi ini setiap 6 bulan sekali (210 hari), lebih tepatnya yaitu pada Hari Raya Kuningan yang bertepatan pada 10 hari setelah pelaksanaan Hari Raya Galungan.

Bagaimana pelaksanaan upacara adat Mesuryak ini? Pelaksanaannya adalah semua warga sembahynag di pura keluarga atau Pura Kahyangan Tiga desa setempat.

Kemudian mayarakat setempat akan melepas kepergian para roh leluhur serta membekali mereka banten pangadegan atau sesaji di depan gerbang rumah.

Apa saja isian dari sesaji tersebut? Isinya adalah berupa beras, telur, pis bolongm, dan perlengkapan lainnya sebagai bekal leluhur.

Usai persiapan telah selesai semuanya, mereka baru akan meggelar tradisi Mesuryak. Sebelum prosesinya dimulai, masing-masing anggota keluarga memberi bekal kepada roh para leluhur sesuai dengan kemampuannya.

Uang-uang tersebut biasanya akan mereka lemparkan ke udara untuk perebutan warga. Meskipun terlihat terjadi desak-desakan dan sampai terjatuh, seluruh warga melalukannya dengan rasa suka cita tanpa ada kericuhan.

6. Upacara Tumpek Landep

Upacara Tumpek Landep
google

Berikutnya, upacara adat Bali yang keenam adalah upacara Tumpek Landep. Hari upacara ini khusus untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Pasupati (Dewa Senjata).

Masyarakat bali biasanya menggelar tradisi Tumpek Landep setiap 6 bulan sekali pada Saniscara Kliwon wuku Landep.

Dalam ajaran Hindu terdapat beberapa hari suci Tumpek yang memiliki fungsi dan makna masing-masing. Kata tumpek berasal dari kata dasar tampa yang berarti “turun” (dalam kamus Jawa Kuno).

Kata dasar tampa tersebut mendapatkan sisipan serta mengalami berbagai perubahan konsonan dan persenyawaan sehingga menjadi tumpek. 

Dengan melewati beberapa proses perubahan kata tersebut, hari suci Tumpek memiliki arti hari peringatan turunnya kekuatan manifestasi Sang Hyang Widhi ke dunia.

Adapun kata landep memiliki pengertian “tajam” atau “ketajaman”. Dari situ terbentuklah kesimpulan bahwa Tumpek Landep merupakan ungkapan rasa syukur umat Hindu-Bali terhadap Sang Hyang Widhi Wasa yang turun ke dunia.

Selain itu, upacara ini sekaligus bermakna Sag Dewa telah memberi ketajaman pemikiran kepada manusia. Sifat ketajaman tersebut menjadi simbol seperti senjata berbentuk runcing seperti keris, tombak, dan pedang.

Perayaan Tumpek Landep merupakan bagian dari rangkaian hari raya umat Hindu seperti hari raya Galungan, hari raya Kuningan, hari raya Saraswati, hari raya Siwaratri, dan hari raya Tumpek Landep.

Pelaksanaan perayaan upacara ini biasanya bertempat di rumah dan Pura dengan cara mengumpulkan benda-benda logam atau pusaka. Durasi waktunya adalah sejak pagi hingga sore hari.

Konon, hingga saat ini Tumpek Landep masih menjadi salah satu upacara adat Bali yang lestari. Bahkan lebih dari itu, pada zaman sekarang benda-benda yang mereka kumpulkan tidak hanya senjata dan pusaka saja.

Lalu, apa yang mereka kumpulkan? Mereka juga mengumpulkan berbagai benda mengandung unsur logam yang telah menjadi kebutuhan manusia seperti kendaraan dan alat-alat rumah tangga.

Masyarakat akan menggelar upacara untuk benda-benda tersebut dengan memberi hiasan berupa janur yang sering terkenal dengan nama tamian.

Ketika upacara sedang berlangsung, mereka membarikan sesajian kepada benda-benda tersebut dengan harapan supaya mempermudah dan memperlancar kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

7. Upacara Adat Bali Piodalan

Upacara Adat Bali Piodalan
google

Beberapa orang mengenal upacara adat Bali Piodalan dengan nama Pujawali, Petoyan, atau Petirtaan yang merupakan nama salah satu Hari Raya Hindu.

Dalam sejarahnya, upacara adat ini termasuk dari rangkaian upacara Dewa Yadnya yang mereka tujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi untuk sebuah Pura atau tempat suci.

Secara harfiah, kata Piodalan berasal dari kata Wedal yang berarti “keluar” atau “lahir”. Dari sini kita dapatkan kesimpulan bahwa Piodalan adalah upacara untuk merayakan ulang tahun sebuah pura/ tempat suci.

Dengan demikian, sudah menjadi hal yang lumrah bahwa masyarakat Bali memiliki hari yang berguna sebagai hari suci perayaan Piodalan/ Pujawali.

Adapun hari Odalan sendiri mereka rayakan berdasarkan pada perhitungan sasih dengan merujuk pada kalender Saka yang jatuhnya setahun sekali.

Akan tetapi sumber lain menyebutkan bahwa pelaksanaan Hari Raya Odalan mengacu pada perhitungan wuku yang jatuhnya setiap 6 bulan sekali (210 hari).

Pelaksanaan hari tersebut biasanya terbagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu tingkat nista, tingkat madya, dan tingkat utama. Namun semua tingkat tersebut tetap memiliki arti serta tujuan yang sama.

8. Upacara Adat Bali Ngurek

Upacara Adat Bali Ngurek
google

Upacara adat Bali Ngurek merupakan upacara yang cukup ekstrim. Mengapa? Karena banyak orang menganggap mirip dengan debus.

Dalam pelaksanaan upacara ini, seseorang yang terlibat dalam upacara Ngurek ini akan menusuk tubuh mereka sendiri dengan menggunakan keris.

Akan tetapi upacara Ngurek ini memiliki nilai moral yang dalam. Sebagai manusia, kita wajib meyakini Tuhan Yang Maha Esa. Dengan keyakinan tersebut Yang Maha Kuasa pasti akan memberikan anugerah serta pertolongan.

9. Upacara Mepandes

Upacara Mepandes
google

Dalam bahasa daerah Bali, potong gigi biasa dikenal dengan mepandes, mesangih, atau metatah. Upacara ini merupakan upacara keagamaan Hindu Bali.

Isi dari upacara ini adalah pemotongan atau pengikiran enam gigi taring yang mereka lakukan terhadap seorang anak yang telah beranjak dewasa.

Upacara Mepandes merupakan bagian dari rangkain upacara Manusa Yadnya. Dalam hal spiritual, upacara seperti ini memiliki arti sebagai bentuk pembayaran hutang oleh orang tua kepada anaknya karena telah menghilangkan enam sifat buruk dari diri manusia.

Pelaksanaannya dengan cara melakukan ritual berupa mengikis 6 gigi taring bagian atas. Tujuan dari ritual ini adalah untuk menghilangkan sifat sad ripu yang merupakan 6 jenis perbuatan buruk dalam diri manusia.

Upacara potong gigi ini biasa dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan upacara adat Bali yang lain seperti Ngaben, pernikahan, atau Ngeresi.

10. Upacara Adat Saraswati di Bali

Upacara Adat Saraswati di Bali
google

Selanjutnya, upacara adat Bali yang terakhir adalah Saraswati. Saraswati merupakan hari raya mereka untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa atas manifestasinya menciptakan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Kesucian.

Masyarakat Bali akan melaksanakan Hari raya Saraswati pada setiap 6 bulan sekali (210 hari), tepatnya pada hari Sabtu Umanis wuku Watagunung. Mereka melakukan dengan prosesi pembacaan dan renungan isi ajaran pustaka.

Kekuatan Sang Hyang Widi Wasa dalam perwujudannya dilambangkan dengan seorang Dewi (Saraswati) yang membawa semua peralatannya seperti alat musik, genitri, pustaka suci, dan teratai. Dia duduk menunggang seekor angsa.

Ketika pelaksanaan upacara adat Saraswati ini juga terdapat hiburan lain seperti pentas seni tari, pembacaan sastra, dan malam sastra selama semalam suntuk.

Oke, itulah beberapa macam upacara adat Bali yang unik dan penuh makna. Semoga bermanfaat buat kamu dan selalu menambah wawasan dalam kebudayaan Indonesia. 😀

See You!

Sumber: Beberapa blog punya temen seperguruan 😀.

Avatar

Rumah Adat DKI Jakarta

Avatar Adzka eN
5 min read

20 Upacara Adat Jawa Barat

Avatar Adzka eN
7 min read

Rumah Adat Manado

Avatar Adzka eN
7 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *