Sketsa Rumah Adat (Lengkap dengan Keterangannya)

sketsa rumah adat

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya. Berbagai macam rumah adat tersebar di seluruh wilayah negara ini. Untuk menambah wawasan tentang macam-macamnya, Anda bisa melihat gambar dan sketsa rumah-rumah adat di aritkel ini.

Rumah adat mencerminkan kehebatan nenek moyang kita sebagai bangsa Indonesia. Mereka berhasil membuat gaya arsitek bangunan khas untuk daerah masing-masing.

Rumah adat antar suku memiliki ciri khas masing-masing. Meskipun sekilas hampir sama, akan tetapi tetap saja terdapat beberapa sisi yang berbeda.

Untuk memudahkan pemahaman tentang macam-macam rumah adat, Anda dapat menyimak ulasan lengkap di bawah ini.

1. Sketsa Rumah Adat Sumatera Utara (Bolon)

sketsa rumah adat sumut
google.com

Gambar di atas adalah contoh sketsa rumah adat suku Batak. Tempat suku Batak adalah di Sumatera Utara. Suku ini terkenal dengan karakter keras dan tegas, atau cenderung kasar menurut beberapa kalangan.

Rumah adat suku Batak terkenal dengan sebutan Rumah Bolon. Sebagian orang lebih mengenal dengan nama Rumah Gorga.

Ada beberapa macam Rumah Bolon, diantaranya adalah Rumah Bolon Toba, Rumah Bolon Simalungun, Rumah Bolon Karo, Rumah Bolon Mandailing, Rumah Bolon Pakpak, dan Rumah Bolon Angkola. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.

Di zaman sekarang mungkin Anda sulit menemukan rumah-rumah adat Sumatera Utara ini. Hal itu karena sudah banyak pendatang yang membawa gaya hidup ala modern.

2. Sketsa Rumah Adat Sumatera Barat (Rumah Gadang)

sketsa rumah adat sumbar
google.com

Gambar di atas adalah contoh sketsa rumah adat Sumatera Barat.

Povinsi Sumatera terbagi menjadi dua daerah, utara dan barat. Tiap daerah memiliki keunikan masing-masing, termsuk rumah adat mereka.

Jika di Sumatera Utara terdapat rumah adat suku Batak, maka di Sumatera Barat ini terdapat rumah adat Minangkabau.

Rumah adat Minangkabau terkenal dengan nama Rumah Gadang. Di beberapa tempat juga terkenal dengan sebutan lain, yaitu Rumah Bagonjong atau Rumah Baanjuang.

3. Sketsa Rumah Adat Nanggroe Aceh Darussalam (Krong Bade)

sketsa rumah adat aceh
google.com

Naggroe Aceh Darussalam juga mempunyai rumah adat. Orang-orang mengenalnya dengan Krong Bade atau Rumah Aceh.

Rumah adat Krong Bade mempunyai ciri khas, yaitu terdapat tangga di bagian depan rumah. Fungsi tangga tersebut adalah sebagai jalan masuk para tamu atau orang yang akan memasuki rumah.

Keunikan dan keindahannya menjadikan biaya pembangunan rumah adat ini menjadi mahal. Bahkan jika dibandingkan dengan rumah-rumah modern, biaya pembangunannya lebih mahal rumah adat ini.

Fakta di atas menyebabkan rumah adat ini semakin langka. Ketika berkunjung ke Naggroe Aceh pun, Anda pasti juga akan kesulitan menemukannya.

4. Rumah Adat Bangka Belitung (Rakit Limas)

sketsa rumah adat bangka belitung
pinterest.com

Daerah asal novelis penulis buku tetralogi Laskar Pelangi itu bernama Bangka Belitung. Satu daerah yang cukup indah dan menarik.

Rumah adat Bangka Belitung ada dua macam, yaitu Rumah Rakit dan Rumah Limas. Ada juga sebagian orang yang menambahkan satu macam lagi, yaitu Rumah Panggung.

Ketiga macam rumah adat Bangka Belitung ini memiliki ciri khas masing-masing. Akan tetapi pada beberapa bagian mempunyai kesamaan.

Rumah adat Bangka Belitung ini banyak memiliki gaya arsitektur Melayu.

Rumah Rakit berasal dari Sulawesi Selatan. Rumah adat ini termasuk rumah adat yang paling tua diantara rumah-rumah adat lainnya. Bahkan ada beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa rumah adat ini sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya.

Rumah Limas merupakan rumah adat asli Bangka Belitung. Rumah adat ini dibangun dengan bahan dasar bahan kayu unglen atau merbau. Pemilihan bahan dasar ini karena kayu jenis unglen atau merbau lebih tahan terhadap air.

5. Rumah Adat Jambi (Panggung Kajang Leko)

sketsa rumah adat jambi
pinterest.com

Rumah adat Jambi sering dikeanal dengan nama Rumah Panggung atau Kajang Leko.

Rumah adat ini terbuat dari bahan dasar kayu sehingga memiliki keunikan tersendiri. Sifat natural dari rumah adat ini sangat kental.

Berbeda dengan rumah-rumah adat lainnya, rumah adat ini mempunyai aturan yang cukup menarik. Ia menerapkan sistem pembagian ruangan dengan kegunaan masing-masing. Hal ini menunjukkan kedisiplinan pemilik rumah yang luar biasa.

Setidaknya rumah adat Jambi ini dibangun dengan desain 8 ruangan. Setiap ruangan memiliki fungsi tersendiri.

Ruangan pertama disebut jogan. Fungsi ruangan ini adalah  sebagau tempat istirahat anggota keluarga dan sebagai tempat untuk menyimpan persediaan air. Ruangan kedua disebut serambi depan. Fungsi ruangan ini adalah sebagai tempat untuk menerima tamu pria.

Ruangan ketiga disebut serambi dalam. Fungsi ruangan ini adalah sebagai tempat tidur anak lelaki. Ruangan keempat disebut amben melintang. Fungsi ruangan ini adalah sebagai kamar pengantin pria maupun wanita.

Ruangan kelima disebut serambi belakang. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang tidur untuk gadis anak-anak perempuan yang belum menikah. Ruangan keenam berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu perempuan.

Ruangan ketujuh disebut garang. Fungsinya sama dengan ruangan pertama, yaitu sebagai tempat menyimpan persediaan air. Ruangan terakhir atau kedelapan adalah dapur yang digunakan untuk memasak menu makanan.

6. Rumah Adat Bengkulu (Bumbungan Lima) 

sketsa rumah adat bengkulu
pinterest.com

Rumah adat khas Bengkulu bernama Bumbungan Lima.

Berbeda dengan rumah-rumah adat lainnya, rumah adat ini tidak digunakan untuk tempat tinggal. Rumah adat ini hanya digunakan ketika ada acara-acara adat setempat, seperti acara perkawinan dan kedatangan tamu dari luar.

Rumah adat ini didesain seperti panggung yang beratap tinggi. Bentuknya biasanya limas, mirip dengan rumah adat Bangka Belitung.

Karena berbentuk panggung yang agak tinggi, rumah adat ini dilengkapi dengan tangga untuk memasukinya. Anak tangga rumah adat ini berjumlah ganjil.

7. Rumah Adat Lampung (Nuwo Sesat)

sketsa rumah adat lampung
pinterest.com

Nuwo Sesat merupakan rumah adat bagi masyarakat Lampung. Rumah ini umumnya dipakai untuk pertemuan adat bagi para purwatin ketika acara pepung adat/musyawarah. Itulah sebabnya rumah adat ini juga dikenal dengan sebutan Balai Agung.

Rumah adat yang satu ini cukup unik. Beberapa bagian rumah ini memiliki nama dan kegunaan tertentu.

Ada Anjungan, yaitu semacam serambi yang dipakai untuk pertemuan kecil-kecilan. Pusiban atau ruang bagian dalam biasa digunakan untuk pertemuan resmi. Tetabuhan adalah ruangan yang dipakai untuk menyimpan alat musik tradisional.

Gajah Merem adalah ruangan yang digunakan untuk istirahat bagi penyimbang. Ijan Geladak adalah sebutan untuk tangga di depan rumah yang dilengkapi dengan atap-atap pendek. Atap rumah adat ini disebut Rurung Agung.

Ciri khas rumah adat ini adalah di bagian depan rumah terdapat ukiran ornamen. Motif ukiran ornamen tersebut adalah perahu. Inilah yang membedakannya dengan rumah-rumah adat lain.

8. Rumah Adat Madura (Tanean Lanjhan)

sketsa rumah adat madura
pinterest.com

Rumah adat Madura biasanya dibangun secara berkelompok yang terdiri dari satu kekerabatan. Karena itu, kekompakan kekerabatan penghuni rumah adat ini menjadi ciri khas mereka.

Rumah adat ini pada umumnya dibangun di dekat sawah atau lahan kerja suku Madura. Kebanyakan terletak di dekat sumber atau mata air agar mempermudah para penghuninya.

Pembangunan rumah adat ini tidak sembarangan. Ada pola-pola yang harus diikuti. Sebagai contoh saja, urutan rumah barat ke timur menunjukkan urutan tua muda penghuninya.

9. Rumah Adat Sumatera Selatan (Limas)

sketsa rumah adat Sumatera Selatan
pinterest.com

Atap rumah adat Sumatera Selatan ini berbentuk limas. Mungkin karena itulah namanya dikenal dengan Rumah Limas.

Rumah adat ini memiliki alas lantai yang bertingkat-tingkat atau lebih terkenal dengan sebutan Bengkilas. Lazimnya hanya digunakan untuk keperluan-keperluan yang bersifat kekeluargaan.

Ketika ada tamu yang datang, mereka akan mempersilahkan untuk duduk di teras atau rumah kedua.

Apabila Anda menemukan rumah adat jenis ini, maka pasti semuanya menghadap ke barat atau ke timur. Anda tidak akan menemukan rumah yang menghadap ke utara atau selatan.

Desain rumah adat Sumatera Selatan ini cukup unik. Setidaknya terdapat lima tingkat di rumah adat ini.

Tingkatan-tingkatan tersebut adalah Tenggalung, Jogan, Kekijing Tiga, Kekijing Empat, dan Raungan Gegajah. Setiap tingkat memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing.

Nama lain dari Rumah Limas ini adalah Rumah Bari.

Ketika Anda berkunjung ke Malaysia, jangan heran kalau Anda dapati Rumah Limas di beberapa daerah karena tempatnya memang berdekatan. Anda pasti akan dapati Rumah Limas di daerah Johor, Selangor dan Terengganu.

10. Rumah Adat Banten (Badui) 

sketsa rumah adat Banten
pinterest.com

Rumah adat Banten dikenal dengan Rumah Badui karena terdapat Suku Badui di kabupaten Lebak, Banten. Selain Rumah Badui, rumah adat Banten juga dikenal dengan istilah Julang Ngapak.

Bentuk rumah adat ini seperti panggung. Bahan dasar properti ini adalah bambu. Pembangunan rumah ini selalu dilakukan secara gotong royong, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tenaga tukang.

Berbeda dengan rumah adat Sumatera Selatan (Limas), bangunan Rumah Badui ini justru menghadap ke utara atau selatan. Semuanya dibangun secara berhadapan. Ini berdasarkan aturan yang dijalankan di suku Badui.

Rumah Badui biasanya dibagi menjadi tiga ruang, yaitu sosoro (depan), tepas (tengah) dan imah (belakang). Setiap ruang memiliki kegunaan tertentu.

Sosoro digunakan untuk tuan rumah dan para tamu yang berkunjung. Tepas digunakan untuk acara makan dan tempat tidur anak. Imah dijadikan sebagai ruang inti. Fungsinya adalah untuk dapur dan kamar pengantin atau istri.

11. Sketsa Rumah Adat DKI Jakarta (Kebaya)

sketsa rumah adat DKI Jakarta
google.com

Suku asli DKI Jakarta adalah suku Betawi. Sebagaimana daerah-daerah lain, suku Betawi juga mempunyai rumah adat yang disebut Rumah Kebaya.

Selain Rumah Kebaya, suku Betawi juga memiliki rumah adat lainnya, yaitu Rumah Gudang, Rumah Joglo, dan Rumah Panggung.

Ciri khas yang menjadi ikon rumah adat suku Betawi ini adalah di bagian depan rumah terdapat teras yang sangat luas. Biasanya teras digunanak untuk menerima dan memberikan jamuan kepada para tamu.

Setidaknya rumah adat suku Betawi ini dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian di depan bersifat semi publik. Seperti sifatnya, bagian ini boleh ditempati oleh orang umum. Bagian kedua berada di belakang dan berdifat pribadi. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan menempatinya.

Sebutan Rumah Kebaya untuk rumah adat suku Betawi ini karena bentuk desain atapnya seperti pelana yang bisa dilipat-lipat. Jika dilihat dari sisi samping rumah maka akan tampak sepeti lipatan kebaya.

12. Sketsa Rumah Adat Jawa Barat (Sunda)

sketsa rumah adat Jawa Barat
google.com

Gambar di atas adalah sketsa rumah adat Jawa Barat. Rumah adat jawa barat lebih terkenal dengan sebutan Rumah Sunda.

Desain arsitektur rumah adat Jawa Barat ini sangat ketara dengan fungsionalitas, kesederhanaan, kepolosan, dann keseragaman

Bagian atap rumah adat ini biasanya terbuat dari bahan dedaunan alamiah untuk menutupi balok dan kayunya. Dinding rumah adat ini terbuat dari bambu yang dibikin menjadi anyaman.

Ada beberapa bentuk bangunan rumah adat Jawa Barat ini, yaitu Buka Pongpok, Capit Gunting, Jubleg Nangkub, Badak Heuay, Tagog Anjing, dan Perahu Kemureb.

13. Sketsa Rumah Adat Jawa Tengah (Joglo)

sketsa rumah adat Jawa Tengah
google.com

Gambar di atas adalah gambar sketsa rumah adat Jawa Tengah.

Provinsi Jawa Tengah terkenal dengan bangunan rumah adat yang bernama Joglo. Sebuah bangunan yang terbuat dari bahan dasar kayu. Biasaya kayu yang dipakai adalah kayu jati, sengon, dan pohon kelapa.

Di bagian atap rumah adat Jawa Tengah ini terbuat dari genteng. Pada sebagian bangunan rumah ini, atapnya diberi ijuk, jerami, atau alang-alang. Bahan-bahan dasar alami itu meciptakan kenyamanan dan kesejukan tersendiri.

Rumah adat Jawa Tengah ini dilengkapi dengan sirkulasi udara yang cukup pada dinding bagian atas, sehingga udara di dalam selalu bersih.

Kabar baik untuk Anda yang sedang mempelajari rumah adat Jawa Tengah, rumah Joglo ternyata tidak hanya satu macam saja. Ada beberapa macam rumah Joglo, yaitu Pangrawit, Jompongan, Limasan Lawakan, Tinandhu, Mangkurat, Sinom, dan Hageng.

Setiap bagian dari rumah Joglo memiliki istilah tertentu dan fungsi masing-masing. Bagian depan disebut Pendapa. Tempat ini terbuka untuk umum dan siapapun boleh masuk.

Lalu ada Pringgitan yang biasanya dipakai ketika ada acara wayangan atau acara-acara lainnya. Kemudian di bagian dalam ada yang namanya Dalem. Anggota keluarga penghuni rumah ini menggunakannya untuk kamar tidur, baik laki-laki maupun perempuan.

14. Rumah Adat Jawa Timur (Joglo Situbondo) 

sketsa rumah adat Jawa Timur
pinterest.com

Hampir mirip dengan Jawa Tengah, Jawa Timur juga mempunyai rumah adat yang disebut Rumah Joglo Situbondo. Meskipun ada sedikit kemiripan, rumah adat Joglo Situbodo ini terlihat lebih menarik.

Tidak hanya digunakan untuk bertempat tinggal saja, rumah Joglo Situbondo ini sering juga digunakan untuk menyimpan beberapa barang bersejarah.

Bentuk rumah adat ini adalah limasan dan gepak. Bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini adalah kayu jati.

Mengapa kayu jati? Karena kayu jati diyakini sebagai kayu dengan kualitas terbaik dan kekuatan luar biasa. Bahkan ketika terkena panas maupu hujan, kayu jati tidak rusak atau lapuk.

Rumah adat Joglo Situbondo ini banyak dijumpai di daerah Situbondo, sesuai namanya. Meskipun demikian, di daerah-daerah lain juga dapat Anda temui, seperti Ponorogo.

15. Rumah Adat Daerah Istimewa Yogyakarta (Bangsal Kencono)

sketsa rumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta
pinterest.com

Rumah adat Bangsal Kencono ini merupakan peninggalan atau warisan Kerajaan Mataram. Selanjutnya diteruskan oleh Keraton Yogyakarta.

Tidak seperti rumah adat lainnya, rumah adat DIY hanya digunakan untuk tempat tinggal para anggota kerajaan atau keraton saja.

Bahan dasar bangunan rumah adat ini adalah kayu. Biasanya dipilih kayu jati atau nangka karena lebih awet dan tidak lapuk karena air hujan maupun panasnya cuaca. Sedangkan bagian atap berupa genteng.

16. Rumah Adat Kepulauan Riau (Belah Bubung)

 

sketsa rumah adat Kepulauan Riau
pinterest.com

Rumah adat di Kepulauan Riau sering dikenal dengan sebutan Belah Bubung. Selain nama itu juga dikenal dengan Rumah Rabung atau Rumah Bubung Melayu.

Rumah ini dibangun dengan tinggi sekitar dua meter di atas permukaan tanah. Uniknya, bangunan ini dilengkapi dengan tiang-tiang penyangga.

Bagian dalam rumah terbagi menjadi empat bagian dengan fungsi masing-masing. Empat bagian itu adalah selasar, ruang induk, ruang penghubung dapur, dan dapur.

Kebanyakan rumah adat ini dibangun dengan ukuran kecil karena menyesuaikan kualitas ekonomi penghuniya. Rumah dengan ukuran besar hanya dimiliki oleh orang-orang yang kaya.

17. Rumah Adat Riau (Selaso Jatuh Kembar) 

sketsa rumah adat Riau
pinterest.com

Seperti halnya rumah adat DIY (Bangsal Kecono), rumah adat Riau ini juga tidak dipakai untuk tempat tinggal pribadi.

Rumah adat ini hanya digunakan untuk acara-acara umum, seperti pertemuan dan perkawinan. Oleh karena itu ukuran rumah adat ini sangat luas.

Di zama dahulu rumah adat ini dijadikan sebagai tempat beribadah juga. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan perkembangan Islam di Indonesia, orang-orang Riau pindah ke masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah shalat.

18. Rumah Adat Kalimantan Barat (Panjang)

sketsa rumah adat Kalimantan Barat
pinterest.com

Suku yang banyak tinggal di Kalimantan Barat adalah Suku Dayak. Mereka memiliki rumah adat yang dikenal dengan sebutan Rumah Panjang atau Rumah Radank.

Bahan dasar bangunan rumah adat ini adalah kayu. Bangunan ini memiliki tinggi sekitar lima sampai delapan meter. Ukuran yang cukup besar, bukan?!

Untuk memasuki rumah adat ini harus menggunakan tangga. Tangga biasanya diletakkan di bagain depan rumah.

Saat ini rumah adat ini mungkin bisa dikataka hampir punah.

Kelangkaan rumah adat ini berawal dari kecurigaan pemerintah zaman dulu. Suku Dayak yang tinggal di rumah adat ini dicurigai menganut paham komunis.

19. Rumah Adat Kalimantan Tengah (Betang)

sketsa rumah adat Kalimantan Tengah
pinterest.com

Seperti halnya Rumah Panjang di Kalimantan Barat, rumah adat di Kalimantan Tengah ini dihuni oleh Suku Dayak. Mayoritas rumah adat ini berada di hulu sungai.

Bentuk rumah adat Betang adalah berupa panggung dan memanjang. Rumah adat Beteng termasuk rumah adat yang memiliki ukuran yang luas.

Sebagian rumah Betang bahkan berukuran panjang 30-150 meter dan lebar 10-30 meter. Kapasitas tampung rumah Betang sangat banyak.

Terdapat beberapa bagian di rumah Betang dengan fungsi masing-masing. Bagian-bagian tersebut adalah pusat atau poros, ruang tidur, dapur, tangga, pante, serambi, sami, dan jungkar.

20. Rumah Adat Kalimantan Timur (Lamin)

sketsa rumah adat Kalimantan Timur
pinterest.com

Rumah Lamin juga merupakan rumah adat yang banyak dihuni oleh Suku Dayak. Letak geografisnya berada di provinsi Kalimantan Timur.

Ukuran rumah adat Lamin ini cukup besar. Bahkan hampir sama dengan rumah Betang di Kalimantan Tengah. Bangunan ini memiliki panjang sekitar 300 meter, lebar 15 meter, dan tinggi sekitar 3 meter. Bentuknya hampir sama yaitu panggung.

Karena ukuran rumah adat ini sangat luas, biasanya satu rumah digunakan oleh beberapa keluarga. Bahkan pernah ada 12 keluarga tinggal di satu rumah Lamin.

Ciri khas rumah adat Lamin ini adalah hiasan-hiasan yang berwarna kuning dan hitam. Hiasan tersebut menjadi daya tarik tersendiri.

21. Sketsa Rumah Adat Kalimantan Selatan (Bubungan Tinggi)

 

 

sketsa rumah adat kalimantan selatan
google.com

Gambar di atas adalah sketsa rumah adat Kalimantan Selatan.

Rumah adat Bubungan Tinggi menjadi tempat hunian Suku Banjar di Kalimantan Selatan.

Rumah Bubungan Tinggi ini mirip dengan Rumah Bapang di Betawi. Bedanya. rumah Bubungan Tinggi dibangun dengan model konstruksi panggung.

Bahan dasar bangunan rumah adat ini masih sama dengan rumah-rumah adat lainnya, yaitu kayu. Tujuannya adalah agar terjaga sifat naturalnya.

Di dalam rumah adat ini terdapat 8 ruangan, yaitu palatar, pacira, panampik kacil, panampik tangah, panampik basar, palidangan, panampik dalam, dan padapuran. Semuanya memiliki fungsi masing-masing.

22. Sketsa Rumah Adat Kalimantan Utara (Baloy)

sketsa rumah adat Kalimantan Utara
google.com

Gambar di atas adalah sketsa rumah adat Kalimantan Utara.

Rumah adat Baloy ini merupakan tempat hunian bagi Suku Tidung. Letaknya adalah di provinsi Kalimantan Utara.

Lazimnya, rumah adat ini dibangu menghadap ke utara. Sedangkan pintu utamanya justru menghadap ke selatan.

Setidaknya terdapat empat ruang utama di Rumah Baloy ini dan setiap ruang memiliki fungsi masing-masing.

Ambir Kiri untuk kegiatan-kegiatan adat. Ambir Tengah dipakai untuk memutuskan suatu perkara adat. Ambir Kanan untuk ruang istirahat atau ruang damai. Lamin Dalom sebagai kursi kebesaran atau singgasana kepala adat Suku Dayak.

23. Sketsa Rumah Adat Sulawesi Selatan (Tongkonan)

sketsa rumah adat sulawesi selatan
google.com

Gambar di atas adalah sketsa rumah adat Sulawesi Selatan.

Jika Anda melakukan perjalanan ke Sulawesi Selatan maka akan Suku Toraja. Mereka tinggal di rumah adat yang bernama Tongkonan.

Bentuk atap rumah adat ini seperti perahu. Atap itu terbuat dari bambu yang disusun rapi. Akan tetapi untuk zaman sekarang sudah banyak yang menggunakan bahan seng sebagai ganti bambu.

Di sebagian daerah terdapat dua macam Tongkonan, yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A’pa’ (empat rumah tongkonan).

Tongkonan A’pa’ tersebut adalah:

  • Tongkonan Peanna Sangka’
  • Tongkonan To’induk
  • Tongkonan Karorrong
  • Tongkonan Tondok Bangla’ (Pemanukan)

Tongkonan Karua itu adalah:

  • Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
  • Tongkonan Sangtanete Jioan
  • Tongkonan Nosu (To intoi masakka’na)
  • Tongkonan Sissarean
  • Tongkonan Karampa’ Panglawa padang
  • Tongkonan Tomentaun
  • Tongkonan To’lo’le Jaoan
  • Tongkonan To Barana’ Versi lain Tongkonan Lombok Indo’ Piso

24. Rumah Adat Sulawesi Tenggara (Banua Tada)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Rumah Banua Tada dihuni oleh Suku Wolio atau orang-orang Buton di pulau Buton. Daerah ini termasuk provinsi Sulawesi Tenggara.

Struktur bangunan rumah adat ini dibedakan menjadi tiga, yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale.

Bahan dasar pembangunan rumah adat ini adalah kayu, baik atap, tiang, dan alasnya. Pondasi rumah ini dibangun dengan bahan dasar batu.

Rumah Banua Tada terdiri dari empat lantai dengan beberapa ruangan.

Lantai pertama terdiri dari 7 ruangan. Setiap ruangan mempunyai fungsi masing-masing. Dua ruangan untuk sidang anggota Hadat Kerajaan Buton dan ruang tamu. Tiga ruang untuk tidur tamu, kamar anak yang sudah menikah, serta ruang makan bagi Sultan. Dua ruangan untuk anak laki-laki dewasa.

Lantai dua dibagi atas 14 ruangan. Seluruh kamar tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan. Ada gudang, aula, kantor, dan sebagainya.

Lantai tiga hanya ada satu ruangan besaruntuk bersantai dan sebagai aula. Dan bagian paling atas lantai empat digunakan untuk menjemur.

25. Rumah Adat Sulawesi Tengah (Tambi)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Penghuni rumah adat di Sulawesi Tengah ini adalah Suku Kaili dan Suku Lore. Mereka adalah penduduk asli daerah ini.

Ada aturan unik dalam desain pembangunan Rumah Tambi. Untuk rumah yang dihuni oleh kepala adat memiliki anak tangga berjumlah ganjil. Sedangkan untuk penduduk atau masyarakat umum, anak tangganya berjumlah genap.

Kegiatan sehari-hari Suku Kaili dan Lore mereka lakukan di dalam rumah adat ini. Bahkan ketika acara pertemuan kepala adat juga memanfaatkan ruangan di Rumah Tambi ini.

26. Rumah Adat Sulawesi Utara (Pewaris)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Rumah adat Sulawesi Utara ini bernama Rumah Pewaris. Sebagian mengenalnya dengan Rumah Wawalengko.

Rumah adat ini banyak dijumpai di daerah Minahasa. Minahasa merupakan daerah semenanjung tempat persinggahan Portugis dan Spanyol.

Bentuk rumah adat ini mirip dengan rumah-rumah adat Sulawesi lainnya, yaitu panggung. Didesain model panggung agar lebih aman dari serangan binatang buas yang masih berkeliaran di daerah sekitar.

Bahan dasar pembuatan rumah adat Sulawesi Utara ini adalah kayu. Umumnya rumah ini memiliki 26 tiang penyangga.

Tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal saja, rumah adat ini juga digunakan untuk meyimpan hasil panen masyarakat Minahasa.

27. Rumah Adat Gorontalo (Dulohupa)

sketsa rumah adat gorontalo
google.com

Rumah adat ini berasal dari Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara.

Bentuk rumah adat ini adalah panggung, mirip dengan rumah adat Sulawesi Utara atau Rumah Pewaris.

Bagian depan Rumah Dolohupa terdapat dua tangga. Satu di sisi kiri rumah, yang lainnya berada di sisi kanan. Pada zaman sekarang, halaman rumah adat ini dilengkapi dengan taman bunga.

Bagian dalam Rumah Dolohupa ini nyaris tidak ada sekat, sehingga lebih terbuka. Akan tetapi ada satu ruangan anjungan yang biasa dipakai istirahat raja dan keluarganya.

28. Rumah Adat Maluku (Baileo)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Rumah adat Provinsi Maluku disebut dengan Baileo. Rumah ini dibangun dengan bahan dasar kayu. Tidak ada dinding di rumah ini.

Rumah Baileo dipakai untuk menyimpan benda-benda suci, tempat upacara adat, dan sebagai balai warga.

Rumah Baileo dilengkapi dengan ukiran dan ornamen bergambar dua ekor ayam yang berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanannya. Ukiran tersebut melambangkan kedamaian dan kemakmuran.

Selain ukiran di atas, rumah ini juga dilengkapi ukiran bulan, bintang, dan matahari di bagian atap. Warna ukiran tersebut adalah merah, kuning, dan hitam.

29. Rumah Adat Nusa Tenggara Barat (Dalam Loka)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Rumah adat NTB ini disebut Rumah Dalam Loka. Rumah ini dijadikan sebagai tempat tinggal para raja yang berasal dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Bahan dasar rumah adat ini adalah kayu jati, sehingga nampak naturalisme yang sangat kental.

Rumah Dalam Loka ini memiliki filosofi islami, yaitu adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah. Maknanya adalah semua nilai-nilai dalam sendi kehidupan masyarakat Sumbawa harus berdasarkan syariat Islam.

Ada beberapa ruangan di rumah ini, yaitu Lunyuk Agung, Lunyuk Mas, Ruang Dalam, Ruang Sidang, Kamar mandi, dan Bala Bulo.

30. Rumah Adat Nusa Tenggara Timur (Musalaki)

sketsa rumah adat
pinterest.com

Rumah adat ini hanya khusus digunakan oleh kepala suku dari beberapa suku di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bentuk rumah adat ini adalah persegi empat dengan atap yang menjulang tinggi sebagai simbol kesatuan dengan sang pencipta. Bentuk atapnya mirip dengan layar perahu.

Rumah adat Nusa Tenggara Timur dan rumah adat Nusa Tenggara Barat memiliki kemiripan di berbagai sisinya.

 

Rumah-rumah adat di atas menjadi bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya. Tidak hanya kaya akan material, tetapi juga keragaman budaya dan adat istiadat.

Anda sebagai warga negara Indonesia berhak dan pantas untuk berbangga diri dengan hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *