Rumah Adat Aceh (Gambar, Nama, Keunikan, dan Fakta Sejarah)

Rumah Adat Aceh – Provinsi yang terkenal dengan julukan serambi Mekah ini berada di pulau Sumatera. Julukan tersebut melekat karena memang daerah ini sangat kental dengan budaya Islam.

Pada tahun 2004 silam provinsi ini menjalani ujian yang cukup berat, yaitu berupa bencana Tsunami Aceh. Namun demikian, semangat juang dan pembangunan masyarakat setempat tetap sangat membara.

Gedung-gedung, perkantoran, pertokoan, bahkan hingga rumah budaya atau rumah adat mengalami pembangunan pesat atas izin Tuhan.

Nah, pada artikel ini saya akan mengajak kamu untuk mempelajari macam-macam rumah adat Aceh, fakta sejarah, serta keunikan yang menjadi ciri khasnya. Simak hingga tuntas ya!

Nama Rumah Adat Aceh

Nama Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Mula-mula, saya akan membahas terlebih dahulu mengenai nama rumah adat Aceh. Jadi sebenarnya apa nama rumah adat Provinsi Aceh?

Berdasarkan hemat saya dari beberapa sumber, rumah adat Aceh setidaknya memiliki 3 nama dengan jenis tertentu. Nama-nama rumah adat Aceh adalah:

1. Rumoh Aceh (Krong Bade)

2. Rumoh Santeut

3. Rangkang

Bagaimana penjelasan tentang tiap nama dari rumah adat Aceh tersebut? Ok, saya akan jelaskan satu persatu pada bab berikutnya. Cekidot.

Artikel menarik lainnya: Upacara Adat Bali yang Sukses Menarik Wisatawan Mancanegara

Rumah Adat Aceh

Pada bab ini saya akan menjelaskan secara detail mengenai 3 nama rumah adat Aceh, yaitu Rumoh Aceh Krong Bade, Rumoh Santeut, dan Rangkang.

1. Rumah Adat Aceh Krong Bade

Rumah Adat Aceh Krong Bade dengan warna gelap dan estetik
rumah.com

Rumah adat yang pertama adalah Krong Bade. Rumah adat ini merupakan rumah panggung Aceh dengan ukuran tinggi yang mencapai 2,5 bahkan sampai 3 meter.

Sebagian besar bahan bangunan infrastruktur rumah adat ini adalah kayu. Bagian yang berbeda adalah atapnya, ianya terbuat dengan bahan daun rumbia.

Pemiliki rumah biasanya menggunakan bagian bawah atau kolong dari rumah ini untuk menyimpan bahan makanan. Selain itu, para wanita atau ibu rumah tangga juga memanfaatkannya untuk beberapa aktifitas, contohnya menenun.

Sebelum masuk ke dalam rumah, kamu akan dapati tangga dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Jumlah ini konon merupakan ciri khas keunikannya.

Pada dinding-dinding rumah adat ini terdapat beberapa lukisan sebagai hiasan. Selain sebagai hiasan, kabarnya lukisan tersebtu memiliki arti status sosial dan ekonomi pemilik rumah Krong Bade.

Apabila kamu mendapati jumlah lukisan cukup banyak maka hal itu merupakan tanda bahwa pemilik rumah tersebut termasuk golongan ekonomi tinggi.

2. Rumoh Santeut

Rumoh Santeut tradisional.
architecture.verdant.id

Berikutnya, rumah adat Aceh yang kedua adalah rumoh Santeut (tampong limong). Rumah adat jenis ini biasanya menjadi pilihan tempat tinggal bagi masyarakat dengan penghasilan relatif rendah.

Struktur pada bangunan ini memiliki ketinggian yang sama dalam setiap ruang, yaitu hanya sekitar 1,5 meter. Bangunan yang cukup sederhana ya, sobat.

Selain itu, kesederhanaan rumah adat ini juga terlihat dari material yang menyusunnya. Bagian atap rumah adat ini tersusun dari daun rumbia, sedangkan bagian dindingnya menggunakan bahan pelepah rumbia.

Masih belum selesai, ternyata lantainya menggunakan bambu yang dibelah dan disusun berjajar tidak rapa. Tujuannya adalah agar udara dari bawah tetap bisa masuk.

Perihal pembagian ruangan, rumah adat Santeut ini sama persis dengan rumoh aceh Krong Bade. Ruangan tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.

Ukuran rumah yang tidak terlalu luas ini menjadi alasan penghuninya menggunakan ruang belakang untuk kamar tidur keluarga.

Adapun untuk menjamu keluarga dan tamu, atau mungkin ketika ada acara silaturahmi maka penghuni rumah akan menempatkan pada bagian kolong rumah.

3. Rumah Adat Aceh Rangkang

Rumah Adat Aceh Rangkang
gardencenter.co.id

Selanjutnya, rumah adat Aceh yang ketiga adalah Rangkang. Bentuk dari rumah adat yang satu ini adalah rumah panggung. Rumah adat jeni ini memiliki satu ruangan saja.

Rumah Rangkang ini memiliki fungsi dan manfaat yang cukup baik, yaitu sebagai tempat peristirahatan para petai yang bekerja menggarap lahan sawahnya. Para petani tersebut biasanya membawa bekal dari rumah dan menyimpannya di rumah rangkang ini.

Masyarakat Aceh, dalam hal ini adalah para petani, biasanya menggunakana bahan berupa kayu untuk membangun kerangka rumah rangkang ini. Sedangkan bagian atapnya, mereka menggunakan daun rumbia.

Fakta Sejarah Rumah Adat Aceh

Fakta Sejarah Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Sejarah rumah adat Aceh harus kita fahami berdasarkan kepercayaan masyarakat terdahulu. Para leluhur pernah berpesan bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh saja, namun lebih dari itu bahwa rumah adalah ekspresi keyakinan seseorang terhadap Tuhannya.

Kita memahami bahwa rumah juga merupakan wasilah bentuk syukur kita atas kekayaan alam karunia Tuhan. Itulah sebabnya pembangunan rumah adat Aceh selalu memanfaatkan bahan-bahan alami saja.

Masyarakat Aceh mayoritas telah memiliki pemahaman kuat tentang cara memanfaatkan alam untuk membangun hunian. Mereka menggunakan kayu-kayu pilihan untuk membuat tiang, papan untuk dinding, dan daun rumbia untuk atap.

Masyarakat Aceh tidak pernah menggunakan paku untuk menyambung tiang-tiang rumah. Mereka selalu menggunakan rotan untuk mengikat tiang-tiang tersebut. Sesekali mereka membuat pasak.

Terdapat satu hal yang mungkin cukup unik dalam pembahasan rumah adat ini. Konon rumah adat panggung milik masyarakat adat Aceh ini dapat bertahan hingga 200 tahun.

Selain itu, rumah adat ini juga terkenal tahan gempa. Ketika terjadi gempa, tiang-tiang rumah biasanya hanya akan bergoyang dan bertahan sehingga tidak sampai merobohkan rumah.

Ciri Khas Rumah Adat Aceh

Ciri Khas Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Ciri rumah adat Aceh secara global adalah seperti rumah panggung dengan ukuran tinggi sekitar 2,5-3 meter. Bentuknya adalah menyerupai segiempat yang memanjang dari arah timur ke barat.

Pada bagian depan dari rumah Krong Bade (Rumoh Aceh) ini terdapat tangga yang berjumlah ganjil, yaitu tujuh sampai sembilan buah anak tangga.

Setelah menaiki semua anak tangga, kita akan mendapati sebuah pintu dengan ukuran standar 120 sampai 150 cm.

Sebagai informasi tambahan, kita tidak akan mendapati kursi atau sofa dalam ruangan rumah tradisional masyarakat Aceh ini. Jika ada tamu yang datang, mereka akan dipersilahkan duduk lesehan beralaskan tikar.

Masih membahas tentang ciri-ciri rumah adat Aceh, berikut ini saya akan memberikan informasi terkait bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membangun Rumoh Aceh atau Krong Bade.

  • Kayu sebagai bahan utama dan bahan tiang penyangga.
  • Bambu sebagai bahan alas lantai.
  • Papan untuk membuat dinding dan lantai rumah.
  • Temor atau enau  sebagai bahan dinding dan lantai selain bambu.
  • Tali Pengikat (taloe moe-ikat) berbahan rotan dan tali ijuk untuk mengikat bahan bangunan.
  • Daun Rumbia atau oen meuria sebagai bahan cadangan membuat atap rumah.
  • Daun enau sebagai bahan cadangan membuat atap, yaitu ketika daun rumbia tidak ada.
  • Pelepah Rumbia atau paleupeuk meuria sebagai bahan dasar membuat dinding rumah.

Keunikan Rumah Adat Aceh

Keunikan Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Apa saja keunikan yang terdapat pada bangunan rumah adat Aceh? Berikut ini akan saya bahas lengkap tentang keunikan rumah adat Aceh. Simak ya!

1. Berbentuk Rumah Panggung dan Dibangun Tanpa  Paku

Bentuk dari rumah adat Aceh adalah rumah panggung dengan ukuran tinggi tiang yang mencapai 2,5 meter sampai 3 meter.

Para tukang yang membangun rumah adat Aceh ini tidak menggunakan paku untuk merekatkan antarpapan. Akan tetapi mereka biasanya akan memanfaatkan tali pengikat dari rotan, tali ijuk, serta kulit pohon waru.

2. Desain Anti Gempa 

Tingkat seringnya gempa di Aceh yang cukup tinggi mendorong para arsitek rumah adat Aceh untuk mendesain supaya rumah tersebut tidak roboh ketika terjadi gempa.

Salah satu rahasi dari desain rumah anti gempa tersebut adalah proses pembangunan tanpa menggunakan paku sebagai bahan perekat.

3. Berbahan Alami 

Rumah adat Aceh dibangun berdasarkan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat terdahulu.

Menurut para leluhur, rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal tetapi juga ekspresi keyakinan akan penciptanya. Sehingga, dalam bahan pembuatannya rumah adat Aceh memang selalu menggunakan bahan-bahan dari alam.

Masyarakat Aceh tidak pernah menggunakan paku untuk menyambung tiang yang satu dengan tiang lainnya.

Mereka mengikat kuat dengan rotan atau pasak. Meskipun begitu, rumah adat Aceh digadang-gadang dapat kokoh hingga 200 tahun, lho.

4. Ukiran Kayu Menjadi Lambang Status Sosial Ekonomi 

Rumah adat Aceh ini mempunyai ukiran di sekeliling eksterior rumah yang biasanya bercat terang seperti kuning.

Ukiran ini memiliki makna terkait status sosial dan juga status ekonomi dari penghuni rumah tersebut.

5. Rumah Adat Aceh Terdiri dari Empat Bagian 

Umumnya, rumoh Aceh ini terdiri dari empat bagian yang sama, jadi semacam bentuk yang tipikal.

Pertama, seuramoe keue yang merupakan ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu, bersantai, dan beristirahat.

Kedua, seuramoe teungoh yang menjadi bagian inti rumah, ruang pribadi yang hanya bisa dimasuki penghuni.

Bagian ini terdiri dari ruang tidur keluarga, kamar pengantin, dan juga ruang pemandian jenazah ketika ada anggota keluarga yang meninggal.

Ketiga, seurameo likot yang menjadi tempat makan, dapur, dan area bercengkrama para penghuni rumah.

Keempat, ruang bawah yang dipakai untuk menyimpan barang-barang pemilik rumah atau hasil panen.

6. Jumlah Anak Tangga Pasti Ganjil 

Cobalah untuk menghitung jumlah anak tangga di rumah adat Aceh, jumlahnya pasti ganjil, bukan genap.

Ini merupakan simbol religius dari masyarakat Aceh yang beragama Islam. Jumlah ganjil biasanya merujuk pada Asmaul Husna.

7. Gentong Air di depan Rumah Adat Aceh

Rumah adat Aceh juga memiliki keunikan lain yaitu selalu mempunyai gentong air di depan rumah.

Gentong tersebut diletakkan oleh penghuni rumah agar tamu-tamu yang datang dapat mencuci kaki mereka terlebih dahulu.

Sehingga kaki para tamu sudah bersih ketika memasuki rumah. Artinya, tamu-tamu yang datang mempunyai niat yang baik terhadap tuan rumah.

8. Membungkuk Saat Masuk ke Rumah 

Tinggi pintu rumah adat Aceh lebih pendek dibandingkan dengan tinggi rata-rata orang dewasa yaitu hanya 120-150 cm (centimeter).

Setiap orang yang masuk ke dalam rumah harus memberikan salam hormat kepada pemilik rumah dengan membungkuk.

9. Melakukan Musyawarah Sebelum Membangun Rumah 

Sebelum membangun rumah, masyarakat Aceh biasanya melakukan musyawarah keluarga terlebih dahulu.

Usai mencapai kata mufakat, keluarga yang ingin membangun rumah menyampaikannya kepada ulama setempat.

Ulama akan memberikan saran agar dalam membangun rumah bisa menjadi lebih nyaman dan aman.

Bagian-Bagian Rumah Adat Aceh

Bagian-Bagian Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Sebagaimana rumah-rumah adat daerah lain, rumah adat Aceh juga memiliki beberapa bagian komponen ruangan dengan fungsi masing-masing.

Apa saja bagian-bagian rumah adat Aceh tersebut? Dan apa fungsi tiap ruangan tersebut? Yuk baca ulasan saya berikut ini!

1. Keupaleh (Gerbang)

Masyarakat Aceh yang menggunakan gerbang terbatas hanya pada kalangan tokoh masyarakat atau orang berada.

Inilah yang menjadi salah satu ciri khusus rumah tokoh masyarakat. Keupaleh biasanya terbuat dari kayu yang dipayungi bilik di atasnya.

2. Seulasa (Teras)

Letak teras rumah atau seulasa sejak dahulu hingga sekarang, sudah ditentukan di bagian depan rumah. Fungsi teras ini sebagai tempat untuk bersantai bagi tamu maupun keluarga.

3. Seuramoe-ukeu (Serambi Depan)

Seuramoe-ukeu adalah ruangan khusus yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki. Selain itu, fungsi seuramoe juga untuk tempat makan dan tidur laki-laki ketika menginap. Sedangkan untuk yang perempuan, akan ada ruangan khusus.

4. Tamee (Tiang)

Tamee atau tiang adalah bagian penting yang harus dimiliki setiap rumah adat Aceh. Tiang menjadi komponen yang sangat penting karena menjadi tumpuan utama rumah adat.

Pada umumnya, tiang rumah tradisional ini berbentuk bulat dengan diameter 20-35 cm dan tingginya 150-170 cm.

Tame memiliki jumlah yang bermacam-macam, bisa berupa 16, 20, 24 atau 28 tiang. Fungsi tamee lainnya yaitu untuk memudahkan proses pemindahan rumah tanpa perlu membongkarnya.

5. Rumoh-Inong (Rumah Induk)

Rumoh inong adalah inti dari rumoh Aceh yang letaknya berada diantara ruang depan dan ruang belakang.

Di dalam ruangan ini, akan ada dua kamar yang dipisahkan oleh lorong penghubung. Dan posisi ruangan induk ini dibuat lebih tinggi dibanding serambi depan dan serambi belakang rumah.

6. Rumoh-Dapu (Rumah Dapur)

Bentuk rumoh dapu dibuat lebih rendah dari ruangan belakang. Biasanya ruangan ini terletak dan tersambung dengan serambi belakang.

7. Kroong-Padee (Lumbung Padi)

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa mata pencaharian mayoritas masyarakat Aceh adalah petani.

Dengan demikian, umumnya masyarakat suku Aceh menyedian kroong padee atau lumbung padi yang terpisah dari rumahnya.

Meskipun terpisah dengan bagian rumah yang lain, kroong padi masih termasuk bagian penting rumah adat ini.

Kroong-Padi diletakkan tergantung pemilik rumah, kadang di belakang, samping maupun di depan rumah.

8. Seuramoe-likoot (Serambi Belakang)

Fungsi seuramoe-likoot adalah tempat menerima tamu perempuan. Letak ruangan ada di bagian belakang rumah adat.

Fungsi ruangan hampir sama dengan seuramoe-ukeu, yaitu untuk tempat makan dan istirahat tamu perempuan.

Proses Pembangunan Rumah Adat Aceh

Proses Pembangunan Rumah Adat Aceh
mimpibaru.com

Untuk membangun rumah, bagi masyarakat Aceh tidaklah sembarangan, karena rumah merupakan simbol kehidupan.

Oleh karena itu, ada beberapa persyaratan dalam pembangunan rumah Aceh. Sehingga, rumah tersebut akan memiliki kualitas yang sangat baik.

Hal ini dapat dibuktikan dengan rumah Krong Bade yang mampu bertahan ratusan tahun, meskipun hanya terbuat dari bahan kayu.

Apa saja tahapan membuat rumoh Aceh? Yuk. kita simak satu persatu.

1. Musyawarah

Sebelum membuat rumah, hal pertama yang dilakukan masyarakat Aceh adalah bermusyawarah dengan keluarga terlebih dahulu.

Setelah mencapai kesepakatan keluarga, selanjutnya disampaikan kepada ulama (Teungku) kampung tersebut. Tujuannya agar mendapat kan saran dan nasihat agar rumah menjadi tenang dan tentram.

Selain itu, ada juga musyawarah untuk menentukan pemilihan hari baik yang dipilihkan Teungku, pengadaan kayu tertentu, kenduri dan lain sebagainya.

2. Pengadaan Bahan

Setelah proses musyawarah selesai, pengadaan bahan juga menjadi salah satu tahapan yang perlu dilewati dalam membangun rumah. Pengadaan tersebut meliputi pemilihan kayu, rumbia, bambu/trieng dan lainnya.

Proses pengadaan bahan dilakukan masyarakat Aceh dengan saling bergotong royong. Biasanya jenis kayu yang dipilih tidak dililiti akar dan tidak menyangkut kayu lain ketika ditebang.

3. Pengelolahan Bahan

Selanjutnya, bahan yang sudah didapat akan dikumpulkan dan disimpan di tempat yang aman agar tidak terkena hujan.

Jika pembangunan rumah masih lama, kayu akan direndam dalam air dahulu,, agar tidak dimakan serangga. Setelah itu, kayu dibentuk berdasarkan kebutuhan dari pembangunan rumah tersebut.

4. Pendirian Rumah

Inilah tahapan yang paling akhir dalam proses pembuatan rumah adat yang diawali dengan meletakkan tiang penyangga.

Jenis kayu yang pertama kali dipancangkan adalah untuk tiang utama atau tiang raja dan diikuti dengan tiang-tiang lainnya. Setelah semua tiang terpasang, dilanjutkan proses pembuatan bagian tengah rumah.

Langkah berikutnya adalah pembuatan bagian atas dan pemasanga atap rumah. Pemasangan ukiran dan ornamen rumah adat adalah yang terakhir dalam proses pembangunan rumoh Aceh.

Tinggalkan komentar