Pengolahan Limbah Padat

Pengolahan Limbah Padat – Setiap keuntungan yang didapatkan dari proses industri haruslah dibarengi dengan pengolahan limbah supaya tidak merugikan bagi lingkungan maupun bagi makhluk hidup yang lainnya.

Limbah padat atau sampah yang dihasilkan bila tidak ditangani akan menimbulkan masalah pencemaran.

Banyak sekali macam cara pengolahan limbah sesuai dengan jenis masing- masing limbah. Lebih jelasnya, saya akan membahasnya sebagai berikut mengenai pengolahan limbah padat industri :

Pengolahan Limbah Padat

Sebagai manusia yang peduli lingkungan, maka kita harus memperhatikan limbah yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik industri.

Salah satu bentuk kepedulian kita adalah dengan mempelajari prinsip pengolahan berbagai macam limbah, termasuk limbah padat.

Ada beberapa cara dalam pengolahan limbah padat ini, yang nantinya bisa kamu terapkan jika suatu saat memang harus terjun di dunia pengolahan limbah padat.

Penimbunan Terbuka

Solusi atau pengolahan pertama yang bisa dilakukan pada limbah padat adalah penimbunan terbuka.

Limbah padat dibagi menjadi dua, yaitu organik dan non organik. Jika limbah padat yang kamu hasilkan adalah organik maka akan lebih baik ditimbun.

Penimbunan limbah padat ini sangat baik untuk kamu lakukan karena akan diuraikan oleh organisme- organisme pengurai sehingga membuat tanah menjadi lebih subur.

Penyuburan tanah ini juga merupakan salah satu bentuk keuntungan dari proses pengolahan limbah padat.

Pada metode penimbunan terbuka ini, sampah dikumpulkan dan ditimbun begitu saja dalam lubang yang dibuat pada suatu lahan.

Biasanya lokasi penimbunan limbah terbuka ini dilakukan pada tempat pembuangan akhir (TPA).

Metode penimbunan terbuka ini merupakan metode kuno yang memberikan dampak negatif lain.

Pada lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak.

Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar.

Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.

Bersama rembesan cairan tersebut, dapat terbawa zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Nah, belajar dari dampak negatif pengolahan limbah padat secara terbuka ini maka kami menemukan metode lain yaitu sanitary landfill. Berikut akan saya jelaskan.

Sanitary Landfill

Tempat pembuangan akhir (TPA) atau landfill adalah tempat untuk membuang sampah dan bahan limbah lainnya.

Tempat ini dirancang untuk meminimalkan dampak sampah terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Mengutip National Geographic, TPA ditimbun dengan lapisan dari tanah liat dan plastik tipis, lalu ditimbun lagi dengan beberapa meter tanah agar tanaman bisa tumbuh di atasnya.

Meskipun tempat pembuangan sampah dirancang hanya untuk menampung sampah, beberapa di antaranya akan mengalami dekomposisi seiring waktu.

Proses dekomposisi di TPA akan menghasilkan metana, yaitu gas yang berbahaya dan mudah terbakar.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa metana menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan.

Berdasarkan sistem operasionalnya, terdapat tiga metode pembuangan akhir sampah, yaitu sanitary landfill, controlled landfill, dan open dumping.

1. Sanitary Landfill

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Pengantar Kesehatan Lingkungan, sanitary landfill adalah sistem pemusnahan sampah yang dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang ditimbun selapis demi selapis.

Dengan demikian, sampah tidak berada di ruang terbuka sehingga tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat.

Syarat sanitary landfill yang baik meliputi:

  1. Tersedia tempat yang luas.
  2. Tersedia tanah untuk menimbunnya.
  3. Tersedia alat-alat besar.

Lokasi sanitary landfill yang lama dan sudah tidak terpakai dapat digunakan sebagai tempat pemukiman, perkantoran, dan sebagainya.

2. Controlled Landfill

Merujuk buku Menuju Rumah Minim Sampah, definisi controlled landfill adalah sistem pembuangan dengan meratakan dan memadatkan sampah yang datang setiap hari menggunakan alat berat.

Sampah dipadatkan menjadi sebuah sel, lalu dilapisi dengan tanah setiap lima hari atau seminggu sekali.

Tujuannya untuk mengurangi bau, perkembangbiakan lalat, dan keluarnya gas metana.

Selain itu, dibuat juga saluran pengumpul air lindi (leachate), instansi pengolahannya, pos pengendalian operasional, fasilitas pengendalian gas metana, serta saluran drainase untuk mengendalikan air hujan.

3. Open Dumping

Open dumping adalah sistem pembuangan sampah di suatu cekungan terbuka tanpa menggunakan tanah sebagai penutup.

Seperti penjelasan di awal, cara ini sudah tidak direkomendasikan lagi oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA sampah.

Open dumping berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan.

Sistem ini mengakibatkan pencemaran air dan tanah karena cairan lindi serta pencemaran udara gas metana.

Binatang seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk juga dapat berkembang biak di TPA open dumping.

Pengolahan Limbah Padat Insinerasi

Insinerasi adalah pembakaran limbah padat menggunakan suatu alat yang disebut insinerator.

Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat banyak, bisa mencapai 90 %.

Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk memanaskan ruangan.

Meski demikian, tidak semua jenis limbah padat dapat dibakar dalam insinerator.

Jenis limbah padat yang cocok untuk insinerasi di antaranya adalah kertas, plastik, dan karet, sedangkan contoh jenis limbah padat yang kurang sesuai untuk insinerasi adalah kaca, sampah makanan, dan baterai.

Kelemahan utama metode insinerasi adalah biaya operasi yang mahal.

Selain itu, insinerasi menghasilkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar udara serta abu pembakaran yang kemungkinan mengandung senyawa berbahaya.

Pembuatan Kompos

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik, seperti sayuran, daun dan ranting, serta kotoran hewan, melalui proses degradasi/ penguraian oleh mikroorganisme tertentu.

Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan zat makanan yang diperlukan tumbuhan, sementara mikroba yang ada dalam kompos dapat membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman.

Pembuatan kompos merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi timbunan sampah organik.

Cara ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, karena cara pembuatannya relatif mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

Selain itu, kompos dapat dijual sehingga dapat memberikan pemasukan tambahan atau bahkan menjadi alternatif mata pencaharian.

Berdasarkan bentuknya, kompos ada yang berbentuk padat dan cair.

Pembuatan kompos dapat dilakukan dengan menggunakan kompos yang telah jadi, kultur mikroorganisme, atau cacing tanah.

Contoh kultur mikroorganisme yang telah banyak dijual di pasaran dan dapat digunakan untuk membuat kompos adalah Effective Microorganism 4 (EM4).

EM4 merupakan kultur campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan degradasi limbah atau sampah organik.

Selain itu juga menguntungkan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun pertumbuhan dan produksi tanaman, serta ramah lingkungan.

EM4 mengandung mikroorganisme yang terdiri dari beberapa jenis bakteri, di antaranya Lactobacillus sp., Rhodopseudomonas sp., Actinomyces sp., dan Streptomyces sp., dan khamir (ragi), yaitu Saccaharomyces cerevisiae.

Kompos yang dibuat menggunakan EM4 yang dikenal juga dengan bokashi.

Baca Juga: Prinsip Pengolahan Limbah

Daur Ulang

Berbagai jenis limbah padat dapat mengalami proses daur ulang menjadi produk baru.

Proses daur ulang sangat berguna untuk mengurangi timbunan sampah karena bahan buangan diolah menjadi bahan yang dapat digunakan kembali.

Contoh beberapa jenis limbah padat yang dapat didaur ulang adalah kertas, kaca, plastik, karet, logam seperti besi, baja, tembaga dan alumunium.

Bahan-bahan yang didaur ulang dapat dijadikan produk baru yang jenisnya hampir sama atau sama dengan produk jenis lain.

Contohnya, limbah kertas bisa didaur ulang menjadi kertas kembali. Limbah kaca dalam bentuk botol atau wadah bisa didaur ulang menjadi botol atau wadah kaca kembali atau dicampur dengan aspal untuk menjadi bahan pembuat jalan.

Kaleng alumunium bekas bisa didaur ulang menjadi kaleng alumunium lagi.

Botol plastik bekas yang terbuat dari plastik jenis polyetilen tertalat (PET) bisa didaur ulang menjadi berbagai produk lain, seperti baju poliyester, karpet, dan suku cadang mobil.

Dalam penanganan limbah perkotaan, ketiga metode insinerasi, kompos dan daur ulang dapat digabungkan.

Kunci keberhasilan pengolahan sampah tersebut adalah memilah sampah.

Sampah dipisahkan menjadi sampah organic, anorganik, kaca, polyetilen tertalat (PET).

Sampah organic menjadi kompos, sampah anorganik yang tidak berguna dimasukkan ke dalam insinerasi, dan sampah anorganik yang berguna seperti kaca dan PET didaur ulang.

Pemilahan yang paling efektif dilakukan di hulu atau di rumah tangga.

Pemilahan di rumah tangga dapat berhasil apabila didukung oleh edukasi, regulasi dan penyediaan infrastruktur dari pemerintah.

 

Tinggalkan komentar