Pakaian Adat Yogyakarta

Yogyakarta adalah sebuah provinsi di pulau Jawa yang sangat terkenal dengan berbagai kebudayaannya. Salah satu kebudayaan Yogyakarta yang sangat dijaga kelestariannya adalah dalam hal pakaian adat.

Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Yogyakarta sangat banyak, termasuk pakaian adat. Keberagaman tersebut menjadikan kota Yogyakarta menjadi salah satu objek wisata dan kegiatan observasi kebudayaan Indonesia.

Tertarik mempelajari kebudayaan pakaian adat Yogyakarta? Yuk, simak ulasan berikut!

A. Pakaian Adat Yogyakarta

 

Pakaian adat Yogyakarta sangat beragam desain dan jenisnya. Setiap jenisnya memiliki ciri khas masing-masing. Namun, semuanya tetap memiliki nilai-nilai kebudayaan keraton Yogyakarta.

Pembahasan dalam artikel ini mencakup beberapa unsur dari pakaian adat Yogyakarta, seperti bahan dasar, desain model, dan aksesoris perlengkapannya.

Mengapa pakaian adat Yogyakarta memiliki banyak ragam dan jenis?

Pakaian adat tersebut sangat beragam karena setiap jenis pakaian adat ini memiliki fungsi masing-masing. Satu jenis pakaian adat dengan jenis lainnya memiliki fungsi dan dikenakan dalam momen yang berbeda.

Sebagai contoh, pakaian adat untuk acara pernikahan tentunya berbeda dengan pakaian adat untuk keseharian, bukan?

Ingin mengenal pakaian adat Yogyakarta lebih detail lagi?

Lanjut ke bab berikutnya!

B. Nama-Nama Pakaian Adat Yogyakarta

 

Sebagaimana pakaian-pakaian adat daerah lainnya, pakaian adat Yogyakarta juga memiliki beberapa jenis dengan nama-nama tertentu.

Berikut ini adalah nama beberapa jenis pakaian adat Yogyakarta.

  1. Busana Surjan, pakaian adat untuk pria dewasa
  2. Busana Kencongan, pakaian adat untuk anak laki-laki
  3. Busana Kebaya Beludru, pakaian adat untuk wanita dewasa
  4. Busana Sabukwala Padintenan, pakaian adat untuk anak perempuan
  5. Busana Kesatrian Ageng, pakaian adat khusus pejabat keraton
  6. Busana Samekanan, pakaian adat untuk putri raja
  7. Busana Semekanan Tritik, pakaian adat putri raja yang sudah menikah
  8. Busana Peranakan Atela, pakaian adat untuk abdi dalem
  9. Busana Sikep Alit, pakaian adat untuk abdi dalem
  10. Busana Langeran, pakaian adat untuk abdi dalem
  11. Busana Jarik, digunakan oleh pria maupun wanita
  12. Busana Keprabon, pakaian untuk upacara Ageng

Itulah nama beberapa jenis pakaian adat Yogyakarta. Penjelasan selengkapnya akan dibahas di bab-bab berikutnya. Untuk mempermudah pemahaman materi tentang pakaian adat ini, setiap jenisnya akan dibahas dalam satu bab. Agar lebih nyaman membaca, akan dilengkapi dengan gambar-gambar asli.

C. Kumpulan Jenis-Jenis Pakaian Adat Yogyakarta

 

1. Busana Surjan (Pakaian Pria Dewasa)

Busana Surjan adalah salah satu pakaian adat masyarakat Yogyakarta. Sebagian orang lebih mengenal pakaian jenis ini dengan nama Pakaian Takwa.

Pakaian adat ini merupakan pakaian yang dipakai oleh kaum pria ketika mereka melakukan upacara Grebeg.

Pakaian ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Desain motif Busana Surjan yang paling sering dipakai adalah motif belang berwarna coklat dan hitam.
  2. Sebagian Busana Surjan memiliki desain perpaduan dengan kain jarik bermotif khas Yogyakarta.
  3. Pada bagian leher atau tengkuk terdapat 6 buah kancing. Jumlah tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu menunjukkan jumlah rukun iman.
  4. Di bagian dada sebelah sisi kanan maupun kiri terdapat 3 buah kancing. Jumlah tersebut juga memiliki filosofi, yaitu menunjukkan jumlah kalimat syahadat dalam agama Islam.
  5. Agar tampil lebih keren dan menarik, pria dewasa yang mengenakan Busana Surjan biasanya memakai blangkon di kepala dan sepatu untuk alas kaki.

Ada hal menarik tentang sejarah Busana Surjan ini, yaitu sebagian masyarakat Yogyakarta meyakini sebuah mitos tentang pakaian ini.

Mitos tersebut adalah siapapun yang memakai Busana Surjan secara baik, benar, dan dilengkapi dengan kain batik, tali, stagen, dan ikat pinggang maka berat badannya akan menjadi lebih stabil.

2. Busana Kencongan (Pakaian Anak Laki-Laki)

Selain pakaian untuk pria dewasa, masyarakat Yogyakarta juga memiliki pakaian adat yang digunakan khusus untuk anak-anak mereka.

Busana Kencongan memiliki beberapa komponen, diantaranya adalah:

  1. Baju Surjan
  2. Lonthing Tritik
  3. Ikat pinggang berupa kamus songketan dengan chatok berbahan suwasa (emas berkadar rendah).

Adapun untuk kegiatan sehari-hari, anak laki-laki memakai Busana Kencongan dengan bagian-bagian sebagai berikut.

  1. Baju Surjan
  2. Kain batik dengan wiru di tengah
  3. Lonthong tritik
  4. Kamus songketan
  5. Timang
  6. Dhestar untuk tutup kepala

3. Busana Kebaya Beludru (Pakaian Wanita Dewasa)

Pakaian adat yang berikutnya adalah Busana Kebaya Beludru. Pakaian ini hanya dipakai oleh kaum wanita yang sudah dewasa.

Bahan dasar yang digunakan oleh para produsen pakaian adat yang satu ini adalah beludru berwarna hitam, kain sutra, dan kain katun.

Beberapa wanita biasanya lebih menyukai Busana Kebaya yang dipadukan dengan kain jarik bermotif Yogyakarta.

Untuk menambahkan kesan yang menarik, wanita Yogyakarta akan melengkapi pakaian adat meeka dengan aksesoris-aksesoris berikut ini.

  1. Konde, digunakan untuk merapikan rambut.
  2. Sanggul yang berwarna merah, hijau, dan kuning, digunakan untuk melambangkan tiga dewa kehidupan (trimurti).
  3. Sisir berbentuk gunung, digunakan untuk melambangkan keagungan Tuhan serta harapan tercapainya sebuah cita-cita.
  4. Kalung dengan tiga susun, digunakan untuk melambangkan tiga tingkat kehidupan manusia (lahir, menitah, dan kematian).
  5. Gelang tanpa ujung pangkal, digunakan untuk melambangkan keabadian.

Pakaian adat Busana Kebaya yang dipakai wanita dewasa Yogyakarta ini melambangkan sifat bawaan wanita yang harus selalu bersikap lemah lembut.

4. Busana Sabukwala Padintenan (Pakaian Anak Perempuan)

Sebagaimana Busana Kebaya Beludru, pakaian adat yang berikutnya ini juga dipakai oleh kaum wanita. Namun perbedaannya pakaian adat Sabukwala ini digunakan oleh anak-anak perempuan.

Pakaian adat ini terdiri dari dua komponen, yaitu:

  1. Baju atasan berupa kebaya yang terbuat dati bahan katun
  2. Kain batik dengan motif parang atau bulatan

Agar tampil lebih menarik, perlu ditambahkan beberapa aksesoris. Berikut ini adalah beberapa aksesoris untuk Busana Sabukwala Padintenan.

  1. Sanggul rambut
  2. Selendang
  3. Ikat pinggang berbentuk kupu-kupu, merak, atau burung garuda
  4. Kalung emas
  5. Gelang emas berbentuk seperti ular

Terdapat tiga macam pakaian Busana Sabukwala Padintenan, yaitu Sabukwala Nyamping Batik, Sabukwala Nyamping Praos, dan Sabukwala Nyamping Cindhe.

5. Busana Kesatrian Ageng (Pakaian Khusus Pejabat Keraton)

Pakaian adat Yogyakarta selanjutnya adalah Busana Kesatrian Ageng. Pakaian ini hanya digunakan oleh para pejabat keraton ketika sedang bertugas.

Model desain Busana Kesatrian Ageng adalah berupa jas laken biru tua dengan model kerah berdiri.

Ciri-ciri pakaian adat ini adalah:

  1. Memiliki ukuran panjang ke bawah sampai pantat
  2. Dilengkapi dengan ornamen kancing-kancing bersepuh dan berwarna emas
  3. Pakaian bagian bawah berwarna hitam
  4. Dilengkapi dengan aksesoris topi dari bahan laken berwarna biru tua, bentuknya bulat panjang, dan mempunyai ukuran tinggi sekitar 8 cm.

6. Busana Samekanan (Pakaian Putri Raja)

Busana Samekanan adalah pakaian adat Yogyakarta yang dipakai oleh putri raja dari keluarga keraton.

Pakaian adat ini memiliki ukuran yang panjang dan lebar karena fungsinya adalah untuk menutup dada.

Busana Samekanan ini biasanya dipadukan dengan kain batik, kebaya katun, dan samekanan tritik.

Agar lebih menarik, tambahkan aksesoris berupa subang, gelang, atau cincin.

7. Busana Semekanan Tritik (Pakaian Putri Raja yang Sudah Menikah)

Berbeda dengan pakaian adat untuk putri raja di atas, Busana Samekanan Tritik dipakai oleh putri raja yang sudah menikah.

Pakaian Busana Samekanan Tritik biasanya dilengkapi dengan tengahan seperti baju kebaya, kain batik, jarik, sanggul polos, subang, cincin, sapu tangan berwarna merah, dan berbagai macam perhiasan lainya.

8. Busana Peranakan Atela (Pakaian Adat Abdi Dalem Yogyakarta)

Pakaian adat untuk abdi dalem dibagi menjadi tiga macam. Yang pertama adalah Busana Peranakan Atela. Nama dari pakaian adat yang satu ini memiliki arti tersendiri. Kata peranakan memiliki arti agar dapat menjalin persaudaraan dengan orang lain seperti saudara kandung.

Pakaian Busana Peranakan Atela memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu sebagai berikut.

  1. Pada bagian leher pakaian ini dipasangi enam buah kancing. Jumlah tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu melambangkan jumlah rukun imam seorang muslim.
  2. Pada bagian ujung lengan tangan terdapat lima buah kancing. Jumlah tersebut juga memiliki filosofi tersendiri, yaitu melambangkan jumlah rukun islam.

Terdapat dua varian warna Busana Peranakan Atela, yaitu putih dan hitam. Setiap varian memiliki fungsi masing-masing.

Busana Peranakan Atela yang berewarna putih biasanya digunakan ketika abdi dalem sedang mengikuti upacara-upacara besar.

Adapun Busana Peranakan Atela yang berwarna hitam biasanya digunakan oleh abdi dalem untuk menghadiri acara-acara tertentu di Yogyakarta.

9. Busana Sikep Alit (Pakaian Adat Abdi Dalem Yogyakarta)

 

Selanjutnya, pakaian adat untuk abdi dalem yang kedua adalah Busana Sikep Alit. Sebenarnya pakaian ini tidak jauh berbeda dengan pakaian adat abdi dalem yang pertama.

Pakaian adat Busana Sikep Alit memiliki beberapa ciri khas, yaitu:

  1. Pakaian atasan Busana Sikep Alit ini memiliki warna biru tua.
  2. Terdapat beberapa buah kancing berbahan tembaga, kuningan, atau kain batik sawitan.

Untuk melengkapi pakaian adat Yogyakarta ini, biasanya abdi dalem mengenakan beberapa aksesoris, diantaranya adalah:

  1. Destar (berfungsi sebagai penutup kepala)
  2. Keris (diletakkan di bagian pinggang kanan belakang)

Kapan abdi dalem keraton Yogyakarta mengenakan pakaian adat ini? Mereka memakai pakaian adat ini ketika menghadiri undangan pertemuan khusus atau ketika menyantap jamuan makan malam di keraton.

10. Busana Langeran (Pakaian Adat Abdi Dalem Yogyakarta)

Selanjutnya, pakaian adat abdi dalem yang terakhir biasaya disebut dengan Langeran. Pakaian ini berbeda dengan dua pakaian abdi dalem sebelumnya.

Pakaian adat yang satu ini memiliki beberapa kompenen penting, yaitu:

  1. Baju atasan yang terbuat dari bahan laken
  2. Kemeja putih dengan desain model kerah berdiri
  3. Kain batik

Adapun aksesoris yang biasa dipakai untuk pakaian adat ini adalah:

  1. Dasi berbentuk kupu-kupu
  2. Keris dengan desain model gayman atau ladrangan
  3. Selop berwarna hitam

Pakaian adat Busana Langeran ini biasanya dipakai oleh abdi dalem ketika menghadiri pertemuan khusus atau ketika menyantap jamuan makan malam di keraton.

11. Busana Jarik (Digunakan Pria Maupun Wanita)

Sebenarnya Kain Jarik ini adalah kain khas masyarakat pulau Jawa. Nmaun, setelah melewati beberapa generasi, kain jarik juga dimiliki oleh masyarakat Yogyakarta.

Pilihan varian motif batik Yogyakarta sangat banyak. Diantara motif-motif yang terkenal adalah motif sidomukti, sidomulyo, dan sekar jagad.

Berbeda dengan pakaian-pakaian adat lainnya, pakaian Kain jarik ini boleh dikenakan oleh kaum laki-laki maupun perempuan.

12. Busana Keprabon (Pakaian untuk Upacara Ageng)

Pakaian adat Yogyakarta yang terakhir adalah Busana Keprabon. Pakaian adat ini biasanya dipakai oleh sultan ketika menghadiri upacara ageng.

Pakaian adat Busana Keprabon dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pakaian dodotan, pakaian kanigaran, dan pakaian kaprajuritan.

Busana Keprabon memiliki beberapa komponen, yaitu sebgai berikut.

  1. Kuluk biru yang berhias dari mundri
  2. Kampuh konca setunggal
  3. Timang (kretep)
  4. Moga renda berwarna kuning
  5. Rante
  6. Pethat jeruk sak ajar
  7. Dana chinde gubeg
  8. Karset
  9. Keris branggah

Sebagai catatan tambahan, Busana Keprabon jenis pakaian dodotan hanya digunakan ketika ada acara upacara garebeg, jumengeng dalem (penobatan raja), dan acara pernikahan (pisowana).

D. Keunikan Pakaian Adat Yogyakarta

 

Setiap kebudayaan pasti memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Pada pakaian adat Yogyakarta ini terdapat keunikan tersendiri.

Letak keunikan dari pakaian adat Yogyakarta terdapat pada bahan dasarnya. Berikut ini adalah contoh keunikannya.

  1. Pada pakaian ini, bahan yang digunakan memiliki tekstur yang berbeda dengan tekstur bahan-bahan dasar pakaian adat yang lainya.
  2. Bahan yang digunakan untuk membuat pakaian adat Busana Keprabon ini adalah bahan-bahan dari beludru hitam yang bergaris kuning tua dengan pelisir (pita) dari benang berwarna kuning keemasan.
  3. Terdapat aksesoris berupa sisir gunungan, mentul sebuah, dan rambut ukel terlepas.

Demikian keterangan dan penjelasan mengenai pakaian adat Yogyakarta. Semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi Anda.

Terimakasih.

Tinggalkan komentar