Pakaian Adat Jawa Tengah

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga kekayaan akan kebudayaan. Kekayaan tersebut tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Salah satu contoh kekayaan tersebut adalah kebudayaan pakaian adat Jawa Tengah.

Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa memiliki beberapa macam pakaian adat dengan ciri khas masing-masing.

Setiap macam dari pakaian adat tersebut memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing, namun tetap masih saling berkaitan.

Ingin mempalajarinya lebih detail? Simak artikel berikut!

A. Nama-Nama Pakaian Adat Jawa Tengah

 

Kekayaan Indonesia yang berupa kebudayaan sangat melimpah. Hampir setiap daerah di negara ini memiliki kebudayaan masing-masing.

Tidak terkecuali, provinsi Jawa Tengah yang terletak di Pulau Jawa juga memiliki banyak kebudayaan.

Kebudayaan tersebut sangat beragam macamnya dan selalu dijaga kelestariannya. Salah satu kebudayaan yang sangat dijaga kelestariannya oleh masyarakat Jawa Tengah adalah pakaian adat.

Sebenarnya, pakaian adat Jawa Tengah sangat banyak macamnya. Namun pada artikel ini saya hanya akan membahas 15 jenis pakaian adat Jawa Tengah beserta aksesorisnya.

Berikut ini adalah nama-nama 15 pakaian adat Jawa Tengah dan aksesorisnya.

  1. Batik
  2. Surjan
  3. Kanigaran
  4. Kebaya
  5. Sinjang
  6. Stagen
  7. Jawi Jangkep
  8. Basahan
  9. Beskap
  10. Jarik
  11. Kemben
  12. Kain Tapih Pinjung
  13. Kuluk
  14. Blankon
  15. Keris

Keterangan dan penjelasan setiap macamnya akan dibahas di bab berikutnya. Simak terus ya!

B. Macam-Macam Pakaian Adat Jawa Tengah

 

1. Batik – Pakaian Adat Jawa Tengah

Pakaian adat Jawa Tengah yang pertama adalah Batik. Pakaian batik ini sudah sangat populer dan terkenal, bahkan sudah mulai memasuki pasar internasional.

Batik dapat dipakai oleh kaum pria maupun wanita. Motif yang digunakan tentunya menyesuaikan pemakainya. Dalam beberapa keadaan, motifnya disesuaikan dengan pengaruh kondisi geografis setiap daerah.

Berkaitan denga motif batik, pakaian adat Jawa Tengah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu motif keraton dan motif pesisir.

Biasanya batik yang berasal dari daerah pesisir memiliki corak dan warna yang lebih dinamis daripada batik yang berasal dari keraton.

Bentuk pakaian adat batik ini juga menyesuaikan pemakainya. Untuk pria, mereka memakainya dalam bentuk kemeja lengan panjang atau pendek. Adapun untuk wanita, mereka memakainya dalam bentuk dress atau baju atasan.

Untuk pakaian bawahan, pria memakai celana berwarna hitam atau kain sarung. Sedangkan untuk wanita memakai rok atau celana jeans yang cocok dengan motif batik yang dipakai.

Namun dengan perkembangan ekonomi dan teknologi, pada zaman sekarang pakaian adat batik sudah sangat banyak variasinya. Ada kemeja koko kombinasi batik, sarung kombinasi batik, bahkan gamis dengan motif batik di bagian ujung lengannya.

Untuk mendapatkan tampilan terbaik biasanya akan ditambahkan aksesoris. Aksesoris yang dapat dikombinasikan dengan pakaian adat batik adalah kalung, jam tangan, dan bros.

Sebagai tambahan, untuk kaum pria disarankan memakai songkok ketika menghadiri acara-acara tertentu, seperti mantenan dan hajatan.

Bagaimana, tertarik untuk memakai pakaian adat Jawa Tengah batik ini?

2. Surjan – Pakaian Adat Jawa Tengah

Surjan adalah salah satu nama pakaian adat dari Jawa Tengah. Surjan ini hanya digunakan oleh kaum pria.

Tercatat dalam sejarah bahwa pakaian adat ini sudah ada sejak zaman Mataram Islam yang dibentuk oleh Sunan Kalijaga.

Pada zama dahulu, pakaian Surjan hanya lazim digunakan oleh para bangsawan dan abdi dalem. Namun untuk saat ini, pemakaiannya sudah menjadi umum, siapa pun boleh memakainya.

Bentuk model pakaian adat Surjan adalah berupa kemeja atasan. Untuk lengan tangannya didesain lengan panjang. Sedangkan untuk kerahnya, biasanya disesain tegak dan berbahan kain motif lurik atau bunga kecil-kecil.

Pada bagian kerah, dada kanan dan kiri, serta di bagian perut terdapat beberapa kancing dengan jumlah tertentu. Berikut ini rinciannya.

  1. Pada bagian kerah terdapat 6 buah kancing. Jumlah tersebut memiliki filosofi, yaitu melambangkan jumlah rukun iman.
  2. Pada bagian dada kiri dan kanan terdapat 2 buah kancing. Jumlah tersebu mempunyai filosofi, yaitu melambangkan jumlah kalimat syahadat.
  3. Pada bagian perut terdapat 3 buah kancing. Jumlah tersebut memiliki makna tersendiri, yaitu melambangkan nafsu manusia yang harus dikendalikan.

3. Kanigaran

Pakaian adat selanjutnya adalah Kanigaran. Pakain adat ini terinspirasi dari dandanan pengantin keluarga kerajaan di Kesultanan Ngayogyakarta (Paes Ageng Kanigaran).

Pakaian adat Kanigaran ini boleh dipakai oleh siapapun. Para bangsawan hingga masyarakat umum diperbolehkan oleh Sultan HB IX untuk mengenakan pakaian ini.

Terdapat banya makna filosofis yang dimiliki oleh pakaian adat Kanigaran ini. Biasanya para pengantin memakai pakaian adat Kanigaran ini, terutama yang berdarah jawa.

Bahan yang digunakan untuk membuat dan memproduksi pakaian adat Kanigaran adalah beludru berwarna hitam. Pada bagian bawahannya dilengkapi dengan kain dodot atau kampuh.

Konon, cara memakai pakaian adat Kanigaran ini tidak mudah, bahkan harus diriaskan oleh para ahli yang sudah terlatih dalah hal merias pengantin.

4. Kebaya

Berikutnya ada pakaian adat bernama Kebaya. Pakaian adat ini khusus digunakan oleh kaum wanita.

Asal usul nama kebaya sendiri berasal dari bahasa serapan Bahasa Arab yang memiiki arti pakaian.

Pakaian adat Kebaya biasanya diproduksi dari bahan tipis. Beberapa desainer pakaian adat Kebaya sering memadukan dengan batik, songket, dan sarung untuk menambahkan daya tarik.

Pada zaman dahulu motif yang digunakan untuk Kebaya dibuat secara manual. Namun pada zaman yang semakin modern ini kebaya didesain dengan mesin untuk mempermudah pekerjaan.

Pakaian adat Kebaya Jawa Tengah memiliki warna khas, yaitu hitam dan keemasan. Biasanya, Kebaya Jawa Tengah dipadukan dengan jarik batik.

Berikut ini adalah kelengkapan dan aksesoris yang digunakan ketika memakai pakaian adat Kebaya adalah sebagai berikut.

  1. Pakaian atasan berupa kebaya, kemben, kain tapih pinjung, dan stagen
  2. Pakaian bawahan berupa kain jarik khas Jawa Tengah
  3. Konde yang dihias dengan bunga melati di bagian atasnya
  4. Cincin
  5. Kalung
  6. Gelang
  7. Subang
  8. Kipas

Sejak zaman dahulu hingga saat ini pakaian adat Kebaya masih tetap dilestarikan. Pakaian ini menjadi kekayaan budaya bagi masyarakat Jawa Tengah.

Yuk, ikut melestarikan pakaian adat ini dengan memakainya pada kehidupan sehari-hari!

5. Sinjang

Pakaian adat Jawa Tengah yang ke-5 adalah Sinjang. Pakaian adat Sinjang ini terbuat dari bahan kain batik.

Fungsi pemakaian pakaian adat Sinjang ini sangat simpel, yaitu digunakan untuk menutup tubuh bagian bawah.

Berbeda dengan pakaian-pakaian adat lainnya, Sinjang ini hanya digunakan sesuai keperluandan tidak sebagai pakaian adat yang baku.

Berawal dari fungsinya itulah pakaian adat Sinjang ini sudah tidak banyak dijumpai di masyarakat, bahkan banyak generasi penerus yang tidak mengenalnya.

Nah, tugas kita adalah mengenalkan pakaian adat Sinjang ini kepada anakn didik kita. Bagaimana, siap?

6. Stagen

Berikutnya adalah Stagen. Pakaian adat Stagen ini sekilas berbentuk mirip dengan kemben. Bentuk dari pakaian Stagen adalah panjang berupa gulungan.

Pemakaian Stagen ini adalah ketika memakai jarik. Fungsinya adalah untuk menahan pakaian jarik tersebut agar tidak melorot.

Selain itu, Stagen juga memiliki fungsi yang cukup unik. Biasanya para ibu setelah melahirkan anak, mereka memakai pakaian adat yang satu ini. Cara memakainya adalah dengan melilitkannya di perut.

Untuk apa Stagen ini dililitkan di bagian perut? Konon, tujuannya adalah agar perut seorang ibu tetap terjaga kelangsingannya.

7. Jawi Jangkep

Jawi Jangkep adalah pakaian adat Jawa Tengah yang khusus digunakan oleh kaum pria saja. Terdapat dua jenis pakaian Jawi Jangkep, yaitu:

  1. Jawi Jangkep. Pakaian jenis ini memiliki pakaian atasan berwarna hitam. Lazimnya pakaian ini hanya dikenakan ketika dalam acara formal dan resmi saja.
  2. Jawi Jangkep Padintenan. Untuk jenis ini, lazimnya digunakan ketika melakukan kegiatan sehari-hari. Adapun pakaian atasannya sama dengan Jawi Jangkep, yaitu berwarna hitam.

Secara garis besar, pakaian adat Jawi Jangkep ini dapat dibagi menjadi dua komponen dengan ketentuan masing-masing.

Bagian pertama adalah pakaian atasan. Motif yang digunakan untuk pakaian atasan ini biasanya adalah bunga-bunga kecil. Desain bagian belakang dari atasan ini dibuat lebih pendek dari bagian depan.

Adapun yang kedua adalah pakaian bawahan. Bahan yang digunakan untuk bawahan ini adalah kain jarik. Pemakaiannya dengan dililitkan pada ikat pinggang.

Adapun aksesoris yang biasa dipakai untuk menambahkan kesan keindahan adalah sebagai berikut.

  1. Penutup kepala (blankon atau destar)
  2. Stagen
  3. Keris
  4. Ikat pinggang (timang, lerep, atau epek)
  5. Alas kaki (sendal selop atau canilan)
  6. Bunga melati (dililitkan di leher)

Yuk, bantu jaga kelestarian pakaian adat Jawa Tengah ini agar tidak punah!

8. Basahan

Basahan adalah pakaian adat Jawa Tengah yang digunakan oleh pengantin wanita. Konon, pakaian adat ini adalah warisan kebudayaan Mataram.

Seperti pakaian adat Kanigaran, Basahan juga merujuk pada dandanan khusus pengantin dari keluarga kerajaan Kesultanan Ngayogyakarta yang disebut Paes Ageng Kanigaran.

Penggunaan pakaian adat Basahan ini bersumber dari tradisi Keraton.

Dahulu, pakaian ini khusus dipakai oleh kerabat keraton di lingkungannya. Namun dengan perkembangan zaman yang terjadi, pakaian Basahan ini juga boleh dipakai masyarakat umum.

Pakaian adat Basahan memiliki makna filosofis sebagai simbol berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap komponen dari pakaian adat ini merupakan doa dan harapan agar keluarga tetap hidup dengan harmonis, bahagia, dan sejahtera dengan berpedoman petunjukNya.

9. Beskap

Pakaian adat Beskap ini khusus digunakan oleh kaum pria saja.

Pada asalnya Beskap adalah salah satu bagian dari pakaian adat Jawi Jangkep. Namun seiring dengan kemajuan zaman, pemakaiannya dipisahkan dengan Jawi Jangkep.

Desain warna pada pakaian ini sebenarnya cukup bervariasi. Namun, kebanyakan tetap menggunakan warna yang gelap polos, seperti hitam dan biru tua.

Terdapat empat jenis pakaian adat Beskap, yaitu sebagai berikut.

  1. Beskap Yogya
  2. Beskap Solo
  3. Beskap Landung
  4. Beskap Kulon

Bagian depan dari pakaian ini sengaja didesain secara tidak simetris. Tujuannya adalah untuk antisipasi pemakaian aksesoris keris yang mungkin cukup berat.

Tekstur kain yang digunakan untuk membuat Beskap harus tebal. Pada bagian kerahnya tidak memiliki lipatan.

Kancing pada pakaian adat Beskap terletak pada sisi kanan dan kiri dengan pola menyamping, cukup unik ya.

10. Jarik – Pakaian Adat Jawa Tengah

Jarik adalah sesuatu kain bermotif batik yang terdiri dari bermacam-macam warna sebagai bahan dasar pembuatan baju atau celana.

Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam subbab Kebaya, pakaian adat Jarik ini memang biasa dipakai bersamaan dengan Kebaya.

Jarik merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang-orang zaman dahulu. Hampir semua elemen masyarakat saat itu memakai jarik dalam kegiatan sehari-hari.

Kebudayaan ini perlu untuk tetap dilestarikan sampai kapan pun. Caranya adalah dengan mempelajarinya dan memakainya dalam aktifitas sehari-hari.

Salah satu manfaat jarik yang masih dirasakan hingga saat ini adalah sebagai alat gendong bayi.

11. Kemben – Pakaian Adat Jawa Tengah

Pakaian adat selanjutnya adalah Kemben. Kemben merupakan pakaian penutup dada seorang wanita.

Kemben terbuat dari kain yang berukuran panjang.

Cara pemakaian pakaian adat Kemben ini adalah dengan dililitkan dari daerah dada sampai bawah pinggul.

12. Kain Tapih Pinjung

Pakaian adat Kain Tapih Pinjung adalah salah satu kebudayaan pakaian adat masyarkat Jawa Tengah.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan pakaian adat ini adalah kain jarik dengan motif batik.

Cara pemakaian pakaian adat ini adalah dengan melilitkannya dari kiri ke kanan mulai dari perut sampai pinggang.

Tujuan dari pemakaian pakaian adat yang satu ini adalah menutupi stagen supaya tidak nampak.

Dari keterangan di atas dapat dipaham bahwa Kain Tapih Pinjung hanya sebagai pakaian adat aksesoris.

13. Kuluk – Pakaian Adat Jawa Tengah

Kuluk adalah salah satu aksesoris pakaian adat Jawa Tengah.

Fungsi dari pakaian adat Kuluk ini adalah untuk menutupi kepala. Biasanya Kuluk digunakan kaum pria ketika melakukan pernikahan.

Oleh karena itu, Kuluk hanya digunakan pada acara tertentu dan tidak semua orang dapat menggunakannya.

14. Blankon

Seperti beberapa pakaian adat yang lainnya, Blankon adalah aksesoris dalam pakaian adat Jawa Tengah.

Seperti Kuluk, pakaian adat Blankon merupakan penutup kepala. Blankon terbuat dari kain yang diikat. Corak yang biasa digunakan adah motif lurik.

Fungsi dari Blankon adalah untuk menyembunyikan rambut yang panjang. Mengapa harus ditutup? Konon, rambut panjang adalah aib sehingga harus ditutup, salah satunya dengan Blankon.

Terdapat monjolan dari kain yang dibundel pada bagian belakang blankon. Monjolan tersebut menjadi ciri khas dari blankon itu sendiri.

Pada bagian belakang terdapat dua ikatan yang kuat. Dua ikatan tersebut memiliki makna filosofis, yaitu dua kalimat syahadat harus dipegang dengan kuat.

15. Keris

Terakhir, aksesoris untuk pakaian adat Jawa Tengah adalah Keris. Aksesoris ini merupakan hal yang paling penting dalah sejarah kebudayaan pakaian adat.

Pemakaian Keris adalah sebagai hiasan yang diletakkan di punggung. Benda ini sangat menambah kesan kegagahan pemakainya.

Keris yang digunakan untuk aksesoris pakaian adat ini tentunya bukan keris yang tajam. Keris ini terbuat dari bahan kayu yang diukir seperti keris senjata dan dikemas dengan tempat keris asli.

Pemakaian keris ini sudah sangat langka. Tugas kita adalah menajaga kelestarian kebudayaan ini.

C. Keunikan Pakaian Adat Jawa Tengah

 

Pakaian adat Jawa Tengah memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut terletak pada pakaian adat jenis Jawa Jangkep dan Kebaya.

Apa saja keunikannya? Yuk simak penjelasan berikut!

  1. Pakaian Kebaya memiliki bahan yang terdiri atas bahan katun, beludru, sutera brokat, dan nilon dengan warna yang cerah serta menyala.
  2. Pakaian Jawi Jangkep pria terdiri dari Beskap bermotif bunga. Adapun pakaian bawahannya berupa jarik.

Demikian penjelasan dan keterangan tentang pakaian adat Jawa Tengah serta keunikannya. Semoga dapat membantu menambah wawasan Anda dan bermanfaat.

Terimakasih.

Tinggalkan komentar