[LENGKAP] Kebudayaan Jawa Timur: Pengertian Kebudayaan, Kesenian, dan Pakaian Adat Jawa Timur

Kebudayaan Jawa Timur

Belajar tentang seni budaya tidak akan terlepas dari materi-materi kebudayaan daerah-daerah di seluruh Indonesia. Indonesia memiliki 34 provinsi yang tersebar di seluruh Nusantara. Namun fokus kita pada artikel ini adalah seni dan kebudayaan provinsi Jawa Timur.

Provinsi Jawa Timur memliki walayah yang sangat luas, penduduk yang padat, dan kekayaan budaya yang melimpah.

Agar lebih mudah untuk dipahami, saya akan memberikan kerangka pembahasan kebudayaan Jawa Timur secara global terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa hal yang akan dibahas pada artikel ini.

  1. Nama-nama suku di wilayah Jawa Timur
  2. Pengertian kebudayaan Jawa Timur
  3. Bahasa yang digunakan masyarakat Jawa Timur
  4. Kesenian Jawa Timur
  5. Pakaian adat Jawa Timur
  6. Rumah adat Jawa Timur
  7. Senjata tradisional masyarakat Jawa Timur
  8. Dll

Penjelasan dan keterangan setiap pembahasan akan diuraikan secara lengkap dan komplit di artikel berikut.

A. Nama-Nama Suku di Wilayah Jawa Timur

 

Jawa Timur terkenal dengan kekayaan keberagaman suku. Bermacam-macam suku dengan kebudayaan masing-masing tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur.

Apa saja nama suku yang tinggal di Jawa Timur? Dan daerah mana setiap suku tersebut bertempat tinggal? Simak ulasan berikut!

1. Suku Jawa. Suku Jawa bertempat tinggal hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Mereka tersebar di seluruh penjuru Jawa Timur.

2. Suku Madura. Mayoritas masyarakat Suku Madura bertempat tinggal di Pulau Madura. Namun beberapa orang dari Suku Madura ada yang bertempat tinggal di daerah Tapal Kuda, pesisir utara, dan pesisir selatan.

3. Suku Bawean. Suku Bawean bertempat tinggal di Pulau Bawean. Pulau Bawean ini terletak di bagian utara Kabupaten Gresik.

4. Suku Tengger. Sejarah menyebutkan bahwa Suku Tengger merupakan keturunan para pelarian dari Kerajaan Mataram. Mereka bertempat tinggal di pegunungan Tengger dan sekitanya.

5. Suku Oshing. Hampir semua masyarakat dari Suku Oshing bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Banyuwangi.

6. Orang Samin. Orang Samin merupakan sebuah suku yang memilih bertempat tinggal di wilayah pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Enam suku tersebut di atas adalah panduduk asli Jawa Timur. Namun ternyata selain penduduk asli, wilayah Jawa Timur juga dihuni oleh beberapa suku pendatang.

Sebagian dari para pendatang tersebut bahkan menguasai ekonomi dan industri di beberapa kota.

Berikut ini adalah beberapa contoh etnis pendatang yang ikut bertempat tinggal di wilayah Provinsi Jawa Timur.

  1. Suku Minangkabau
  2. Tionghoa
  3. Arab
  4. Suku Banten
  5. Suku Bugis
  6. Suku Banjar
  7. Suku Sunda

B. Pengertian Kebudayaan Jawa Timur

 

Jawa Timur merupakan wilayah yang sangat kaya akan kebudayaannya. Kebudayaan adalah beberapa hal yang berkaitan dengan kearifan lokal dan budi pekerti masyarakatnya.

Kebudayaan di wilayah Jawa Timur sudah banyak mempengaruhi dan dipengaruhi beberapa wilayah alian, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kebudayaan Jawa Timur meliputi adat istiadat masyarakat Jawa Timur, keberagaman kesenian-keseniannya, rumah adat tradisinal Jawa Timur, dan lain-lain.

Kebudayaan tersebut akan selalu dijaga oleh masyarakatnya. Salah satu cara menjaga kebudayaan adalah dengan melestarikannya kepada generasi-generasi penerus.

C. Bahasa yang Digunakan di Jawa Timur

 

Bahasa yang digunakan di Jawa Timur sangat beragam. Bahasa resmi secara nasional adalah Bahasa Indonesia. Namun, bahasa daerah untuk Jawa Timur sangat berbeda dengan bahasa resmi nasionalnya.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Jawa Timur memiliki ciri khas, yaitu selalu blak-blakan dan terdengar kasar bagi sebagian masyarakat daerah lain.

Kasarnya bahasa mereka tersebut tidak selalu menunjukkan sifat pribadinya, bahkan sesama masyarakat Jawa Timur justru bangga dengan ciri khas tersebut. Mereka juga merasa lebih akrab jika menggunakan bahasa tersebut.

Bahasa daerah yang paling lazim digunakan masyarakat Jawa Timur adalah Bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan level.

1. Basa Ngoko

Basa Ngoko merupakan bahasa sehari-sehari yang digunakan ketika berbicara dengan teman secara umum. Basa Ngoko terbagi menjadi dua bagian, yaitu Basa Ngoko Lugu dan Basa Ngoko Andhap.

2. Basa Madya

Yang kedua adalah Basa Madya. Bahasa ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Basa Madya Ngoko, Basa Madyaantara, dan Basa Madya Krama.

3. Basa Krama

Bahasa Jawa yang selanjutnya adalah Basa Krama. Bahasa ini merupakan bahasa yang paling halus. Biasanya digunakan oleh seorang anak kepada orang yang lebih tua atau mulia.

Basa Krama terbagi menjadi lima macam, yaitu Krama Lugu, Mudha Krama, Wredha Krama, Krama Inggil, dan Krama Desa.

Meskipun bahasa yang paling lazim digunakan adalah Bahasa Jawa, namum terdapat beberapa bahasa lain yang banyak digunakan di Jawa Timur juga, diantaranya adalah:

  1. Bahasa Madura
  2. Bahasa Suku Oshing
  3. Bahasa Suku Tengger

D. Kesenian, dan Kebudayaan Jawa Timur

 

Jumlah macam kesenian di Jawa Timur sangat banyak. Pada bagian ini saya akan membahas beberapa kesenian dan kebudayaan Jawa Timur yang populer. Selamat membaca!

1. Tari Wayang Topeng

Nama Tari Wayang Topeng ini terispirasi dari kesenian Wayang Kulit. Kebudayaan tari ini berawal dari Malang, sebuah daerah di Jawa Timur.

Tari Wayang Topeng memiliki sejarah yang cukup terkenal. Kebudayaan tari ini digunakan oleh para penyebar agama Islam di Nusantara. Pada saat itu, mereka menggunakan tari ini sebagai satu cara untuk menarik perhatian masyarakat Jawa yang mayoritasnya masih beragama Hindu.

Pertunjukan Tari Wayang Topeng biasanya digelar ketika melakukan ritual khusus. Sekilas, tari ini terlihat memiliki sedikit nuansa mistik.

Topeng pada atribut tari ini melambangkan rasa apresiasi kepada wajah nenek moyang dan memiliki arti panghargaan terhadap roh leluhur mereka.

Selain Jawa Timur, masyarakat Jawa Barat juga memiliki kebudayaan Tari Wayang Topeng. Namun keduanya memiliki perbedaan.

Dalam kebudayaan Jawa Barat, pertunjukan tari ini menggunakan alur cerita sejarah Wayang Golek. Adapun Jawa Timur, pertunjukan tari ini mengisahkan cerita Ramayana dan Panji.

Musik yang biasa dipakai untuk suara backsound pertunjukan tari ini biasanya menggunakan alat musik berupa bonang, gong, gamelan, dan kendang.

2. Tari Glipang – Kebudayaan Jawa Timur

Nama tari yang ke-2 ini diambil dari kata dalam bahasa Arab, yaitu Gholiban. Gholiban memiliki makna kebiasaan atau adat.

Aktor pemeran dalam Tari Glipang ini adalah kaum lelaki. Mereka melengkapi kesenian ini dengan iringan musik bernuansa Arab.

Tercatat dalam sejarah bahwa pencipta seni Tari Glipang adalah seorang lelaki bernama Seno Truno. Dahulu, dia adalah seorang pekerja dengan status mandor di sebuah proyek perusahaan tebu milik Belanda.

Namun tidak lama kemudian, dia memilih untuk berhenti bekerja pada perusahaan Belanda tersebut karena tidak kuat dengan sifat semena-mena Belanda.

Sejak saat itulah dia mulai berpikir keras, mencari ide inovasi dan berhasil menciptakan sebuah seni tari yang sekarang dikenal dengan Tari Glipang ini. Seni tari yang dia ciptakan tersebut mengisahkan tentang kehidupannya ketika bekerja di perusahaan Belanda.

Gerakan yang dilakukan oleh penari dalam Tari Glipang ini adalah seperti membentuk posisi kuda-kuda ketika bersiap untuk menyerang.

Gerakan tersebut menggambarkan kehidupan rakyat pribumi bersama kolonial Belanda. Para kolonial itu selalu ingin dipandang tinggi.

Selain posisi kuda-kuda, dalam tari ini terdapat gerakan tangan yang sedang memegang pinggang. Makna dari gerakan tersebut adalah sifat dan kelakuan kolonial yang tidak sopan terhadap rakyat pribumi.

3. Tari Reog Ponorogo

Tari Reog berasal dari daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pada pertunjukan tari ini terdapat nuansa mistik yang sangat kuat karena para penari menggunakan ilmu hitam.

Tari Reog ini memiliki ciri khas yang sangat fenomenal, yaitu atribut berupa topeng singa dan merak berukuran besar. Selain itu terdapat juga warok dan gamblak.

Dalam seni Tari Reog Ponorogo ini terdapat lima komponen, yaitu:

  1. Prabu Kelono Sewandono
  2. Patih Bujangganong
  3. Jathil
  4. Warok
  5. Pembarong

Pertunjukan Tari Reog memiliki beberapa tahapan. Setidaknya terdapat enam tahapan yang biasa dipertunjukkan.

Pada tarian tahap pertama, pertunjukan Reog dibawakan oleh 6 hingga 8 lelaki gagah berani berpakaian serba hitam dengan wajah dicat dengan warna merah. Para penari pria tersebut menggambarkan sosok singa pemberani.

Kemudian tarian tahap kedua dipertunjukkan oleh 6 hingga 8 wanita yang menaiki kuda-kudaan.

Selanjutnya pada tarian tahap ketiga pertunjukan Reog dibawakan oleh anak-anak kecil. Biasanya mereka melakukan pertunjukan adegan-adegan lucu untuk mengundang tawa yang riuh.

Setelah tiga tarian tersebut, petunjukan inti dari Tari Reog baru dimulai. Pertujukan inti ini sifatnya relatif, tergantung acara yang sedang berlangsung.

Pada acara pernikahan, pertunjukan inti menampilkan adegan-adegan romantis. Sedangkan pada acara hajatan dan khitanan, pertunjukan intinya berupa adegan-adegan cerita pendekar.

Setelah pertunjukan inti selesai, Tari Reog akan ditutup dengan adegan Singo Barong. Pemeran dalam adegan ini mengenakan topeng berbentuk kepala singa dan mahkota yang terbuat dari bulu merak.

4. Tari Jaranan Buto

Kebudayaan Tari Jaranan Buto berasal dari Banyuwangi, sebuah daerah di wilayah Jawa Timur bagian ujung timur.

Unsur nama Buto dalam kesenian tari ini memiliki makna raksasa. Sedangkan makna keseluruhan tari ini adalah Kuda Lumping Raksasa.

Dalam pertunjukan Tari Jaranan Buto ini yang berperan berjumlah 16 hingga 20 orang, pria maupun wanita.

Akan tetapi tari yang satu ini memiliki kabar buruk. Tari ini terancam punah karena sepi peminat dan jarang orang yang bermain, bahkan hanya kaum pria yang masih mempertahankan.

Pada zaman sekarang, Tari Jaranan Buto hanya didapati pada sebagian acara hajat pernikahan dan khitanan.

Para penari dalam tari ini memakai make up sangat tebal. Tampilan penarinya pun sangat menyeramkan. Hal tersebut memang menjadi ciri khas tari ini karena memang terinspirasi dari Menak Jinggo, sosok manusia berwajah raksasa.

Alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah kendang, dua gong besar, kecer, dua bonang, dan kempul terompet.

Gerakan dalam Tari Jaranan Buto ini sangat ekstrim, bahkan dalam beberapa kasus kesurupan. Pada sebagian pertunjukan akan menampilkan adegan bertengkar.

5. Tari Gandrung Banyuwangi

Selanjutnya kebudayaan Jawa Timur yang kelima adalah Tari Gandrung Banyuwangi. Nama dari tari ini memiliki makna tersendiri. Gandrung merupakan panggilan atau sebutan untuk sebuah dewi yang bernama Dewi Sri.

Masyarakat setempat menganggap Dewi Sri dapat memberikan kesuburan serta kesejahteraan bagi mereka.

Sebagian orang menganggap seni tari Gandrung Banyuwangi ini masuk dalam genre yang sama dengan seni tari Ketuk Tilu.

Pada awalnya, seni tari Gandrung Banyuwangi ini muncul ketika masyarakat sedang membangun ibu kota Blambangan. Ada seorang seniman menulis tentang seorang lelaki berkeliling ke daerah pedesaan bersama beberapa pemain musik.

Tulisan lelaki tersebut menjadi cerita hiburan bagi rakyat yang kemudian diwariskan kepada generasi penerus. Lalu setelah beberapa waktu, dari cerita tersebut kemudian diciptakan seni tari Gandrung Banyuwangi.

Seni tari ini sangat diminati oleh masyarakat, sehingga mereka dengan sukarela memberika upah kepada siapapun yang membawakan pertunjukan seni tari ini.

Seni tari Gandrung Banyuwangi ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Kostum yang biasa dikenakan oleh para pemeran adalah baju berbahan beludru beserta atributnya.
  2. Semua pemeran mengenakan mahkota di bagian kepala. Mahkota tersebut dikenal dengan nama omprok.
  3. Bagian kaki pemeran dipakaikan samping batik.
  4. Disertai dua alat musik pengiring, yaitu kempul dan gong.

6. Tari Seblang – Kebudayaan Jawa Timur

Selanjutnya, Jawa Timur memiliki kebudayaan bernama Tari Seblang. Tari ini merupakan sebuah ritual tradisional yang dilakukan oleh suku Osing.

Tari Seblang ini melambangkan empat hal, yaitu:

  1. Kesakralan
  2. Ritual pertemuan dua dunia
  3. Rasa syukur terhadap karunia yang diberikan oleh sang Pencipta
  4. Bentuk permohonan untuk dihindarkan dari bala

Seni Tari Seblang ini cukup sulit untuk dipelajari, sehingga membutuhkan bimbingan langsung dari para pemain senior, bahkan konon harus melalui proses pemilihan oleh dukun setempat.

7. Tari Remo – Kebudayaan Jawa Timur

Kebudayaan atau kesenian berupa Tari Remo ini merupakan sebuah seni tari yang dipertunjukkan ketika melakukan penyambutan terhadap tamu istimewa.

Pada awalnya, tari ini hanya diperankan atau dimainkan oleh kaum pria. Namun seiring dengan modernisasi dan perkembangan kebudayaan, kaum wanita juga diperbolehkan. Belakangan, muncul nama Tari Remo Putri untuk versi pertunjukan dari kaum wanita.

Pada pertunjukan Tari Remo ini, gaya kostum baju yang digunakan bermacam-macam, diantaranya adalah:

  1. Gaya Surabayanan
  2. Gaya Malangan
  3. Gaya Remo Putri
  4. Gaya Jombangan
  5. Gaya Sawunggaling

Adapun alat musik yang digunakan untuk mengiringi seni Tari Remo ini adalah alat musik jaawa berupa gamelan.

8. Tari Beskalan – Kebudayaan Jawa Timur

Seperti kesenian Tari Remo, Tari Beskalan ini dipertunjukkan ketika melakukan penyambutan terhadap tamu yang dihormati.

Konon, pada awalnya tari ini adalah sebuah ritual yang dilakukan ketika seseorang membuka lahan baru atau mendirikan sebuah bangunan.

Ketika sedang melakukan penggalian tanah bangunan tersebut untuk pertama kalinya, maka akan  dilakukan sebuah ritual penanaman tumbal yang disebut dengan cok bakal.

Adapun kepala kerbau adalah tumbal yang digunakan sebagai simbol sedekah bumi. Menurut masyarakat, tujuannya adalah untuk menghindarkan bahaya dan mendapat lahan yang subur.

Tari Beskalan ini dipertunjukkan sebagai pengiring ketika sedang berlangsung ritual penumbalan.

Menurut mereka, tari ini merupakan wujud rasa syukur dan hormat kepada leluhur. Selanjutnya, mereka berharap dengan rasa syukur yang dipanjatkan tersebut bahaya akan dijauhkan, tanah akan diberkati dan menjadi subur serta menghasilkan reseki melimpah.

Selain itu, Tari Beskalan juga sering dipertunjukkan ketika melakukan acara bersih desa.

Tari Beskalan dipandang sebagai simbol permulaan kehidupan. Keyakinan mereka ini membuat Tari Beskalan juga menjadi bagian dari pembuka acara dan penyambutan tamu besar.

Sebenarnya Tari Beskalan hanya dimainkan oleh empat orang penari dari kaum wanita. Namun, dalam beberapa acara tertentu jumlah penari Tari Beskalan ini hanya dua orang atau bahkan lebih dari empat orang.

Kostum pakaian yang dikenakan oleh penari ini adalah kostum khas Tari Beskalan.

Gerakan pada tarian ini anggun, lincah, dan dinamis. Gerakan tersebut menggambarkan sisi kecantikan dan kelincahan seorang wanita.

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Beskalan adalah alat musik tradisional seperti kendang, terbang jidor dan lain sebagainya.

Namun pada zaman modern ini, Tari Beskalan biasanya diiringi dengan laras slendro yang menjadi ciri khas gamelan Jawa Timur.

9. Karapan Sapi – Kebudayaan Jawa Timur

Kebudayaan Jawa Timur berikutnya adalah Karapan Sapi. Karapan sapi adalah pacuan sapi yang merupakan ciri khas budaya masyarakat Pulau Madura.

Cara melakukannya adalah dengan menarik sebuah kereta menggunakan dua ekor sapi yang berlomba.

Pada pertunjukan lomba ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan sapi lain. Pada kereta tersebut terdapat tempat pengemudi atau joki berdiri dan mengendalikan sapi tersebut.

Panjang jalur yang digunakan untuk perlombaan karapan sapi ini biasanya sekitar 100 meter. Adapun waktunya adalah sekitar sepuluh sampai lima belas detik.

Beberapa kota di Madura mengadakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun. Adapun pertandingan final dilakukan pada akhir bulan September di kota Pamekasan.

10. Tari Remong – Kebudayaan Jawa Timur

Berikutnya adalah Tari Remong. Kebudayaan ini merupakan sebuah tarian dari Surabaya yang melambangkan jiwa kepahlawanan.

Tari Remong ini dipertunjukkan ketika melakukan acara penyambutan terhadap para tamu. Konon, tari ini merupakan tari propinsi yang menunjukkan keperkasaan, kejantanan dan kegagahan.

11. Ludruk – Kebudayaan Jawa Timur

Selanjutnya, kebudayaan Jawa Timur yang ke-11 adalah Ludruk. Ludruk merupakan suatu pertunjukan drama tradisional yang diperagakan oleh beberapa orang dalam satu kelompok.

Kebudayaan Ludruk ini biasanya dipertunjukkan di atas panggung dengan tema yang menceritakan tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan lain sebagainya.

Kebudayaan ini memiliki tujuan sebagai sarana hiburan bagi rakyat dan masyarakat.

Alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi acara kebudayaan Ludruk adalah alat musik tradisional berupa gamelan.

Bahasa yang digunakan oleh para pementas dalam kebudayaan Ludruk adalah bahasa Surabaya dan bahasa Malang. Mereka menghindari bahasa para intelektual agar pesan yang disampaikan pada kesenian Ludruk dapat diserap oleh semua level lapisan masyarakat.

12. Festifal Bandeng – Kebudayaan Jawa Timur

Berikutnya adalah Festifal Bandeng. Festival ini biasa digelar setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri atau dalam rangka menyambut hari besar Islam lainnya.

Festifal ini merupakan sebuah budaya tradisional tahunan masyarakat Jawa Timur. Selain itu, acara ini juga merupakan upaya Pemerintah Sidoarjo untuk melestarikan ikan bandeng.

Mengapa demikian? Karena Sidoarjo memang terkenal sebagai daerah penghasil ikan jenis bandeng terbesar. Hal ini sesuai dengan gambar logo Kabupaten Sidoarjo.

Sebelum terjadi tragedi lumpur lapindo, selain untuk memamerkan ikan bandeng ukuran jumbo milik petani tambak, dalam acara Festival Bandeng juga terdapat kegiatan lelang bandeng kawak.

Semenjak terjadi tragedi lumpur lapindo tersebut, kegiatan lelang ditiadakan. Festival ini diharapkan dapat memberikan dorongan kepada para petani bandeng untuk tetap membudidayakan ikan bandeng berukuran raksasa.

13. Topeng Dongkrek – Kebudayaan Jawa Timur

Kebudayaan Jawa Timur yang terakhir adalah Topeng Dongkrek. Kebudayaan ini merupakan kesenian yang berasal dari Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Ketika melakukan pertunjukan Topeng Dongkrek, para penari mengenakan tiga macam topeng.

  1. Topeng raksasa atau buto bermuka menyeramkan
  2. Topeng perempuan yang sedang mengunyah kapur sirih
  3. Topeng orang tua berlambang kebajikan

Tari Topeng Dongkrek ini merupakan kesenian berisi tarian yang diiringi dengan musik. Alat musik yang digunakan dalam kebudayaan ini merupakan perpaduan alat musik Islam, China, dan Jawa.

E. Pakaian Adat Tradisional Jawa Timur

 

Salah satu kebudayaan Jawa Timur adalah dalam hal pakaian adat. Jawa Timur memiliki banyak pakaian adat.

Berikut ini adalah beberapa pakaian adat yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa Timur.

1. Baju Sakera

Baju Sakera adalah kaos bermotif belang warna merah putih yang digunakan pada bagian dalam dari pesa’an madura.

Mengapa menggunakan motif belang merah putih? Baju ini menggunakan motif tersebut karena untuk memberikan makna sikap tegas yang dimiliki oleh masyarakat Madura.

Selain itu, dari motif tersebut juga terlihat kesan penegasan bahwa masyarakat Madura memiliki semangat juang tinggi dalam mengahadapi masalah apapun.

2. Baju Gothil

Baju gothil berasal dari Ponorogo, suatu daerah di wilayah Jawa Timur yang terkenal dengan kesenian Reog. Baju ini merupakan pakaian warok ponorogo yang biasa dikenakan oleh pria asal Ponorogo.

Baju gothil ini memiliki warna hitam polos. Sedangkan bentuknya adalah pakaian khas Ponorogo. Baju ini memiliki ukuran badan yang longgar dan lengan yang panjang serta longgar.

Konon, pembuatan Baju Gothil ini sangat susah, sehingga hanya dapat diproduksi oleh orang-orang tertentu. Tidak semua penjahit dapat membuat baju ini.

3. Pase’an Madura

Berikutnya, pakaian adat Jawa Timur adalah Pase’an Madura. Pakaian adat Jawa Timur model ini sangat familiar dan diingat oleh masyarakat.

Pakaian cukup terkenal dalam skala nasional bahkan mancanegara. Itulah sebabnya pada zaman sekarang masyarakat Jawa Timur banyak yang memakainya, bahkan pakaian ini sudah diresmikan menjadi pakaian adat Jawa Timur.

Terdapat dua komponen pakaian Pase’an Madura ini, yaitu pakaian bagian luaran dan pakaian bagian dalam.

Bagian luaran baju ini berwarna hitam. Sedangkan baju dalamnya berupa kaos motif belang berwarna merah putih atau merah hitam

Adapun celana untuk pakaian adat yang satu ini cukup unik karena memiliki ukuran longgar serta panjang sampai mata kaki.

Pada awalnya bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi baju ini berasal dari China. Namun dengan perkembangan teknologi, bahan tersebut dapat dimodifikasi dengan bahan tetoran yang dibuat masyarakat Madura.

4. Pakaian Mantenan

Sesuai namanya, pakaian mantenan ini merupakan pakaian yang digunakan ketika melangsungkan acara pernikahan adat di Jawa Timur.

Pakaian tersebut digunakan oleh dua mempelai ketika menjalani prosesi pernikahan dengan tata cara adat Jawa Timur.

Jenis pakaian ini sangat banyak, bahkan tidak terbatas karena semakin banyak model-model baru. Hampir di setiap daerah wilayah Jawa Timur pasti terdapat pakaian mantenan dengan ciri khas masing-masing.

Penggunaan pakaian ini biasanya dilengkapi dengan berbagai macam jenis aksesoris. Aksesoris tersebut sangat beragam, diantaranya adalah odheng, kain, selempang, dan arloji rantai.

5. Kebaya Rancongan

Kebaya rancongan merupakan pakaian adat Jawa Timur yang diapakai oleh kaum wanita. Pakaian ini merupakan pasangan untuk pakaian Pesa’an Madura.

Desain model untuk Kebaya Rencongan ini sangat simpel dan sederhana. Biasanya desainnya dapat mengikuti bentuk tubuh pemakainya.

Untuk bagian bawahan pada pakaian ini terdiri dari sarung batik bermotif lasem dan storjan atau tebiruan.

Adapun aksesoris yang digunakan untuk melengkapi pakaian adat ini adalah sebagai berikut.

  1. Giwang atau anting
  2. Kalung emas berbentuk biji jagung
  3. Sisir cucuk

6. Baju Cak dan Ning

Baju Cak dan Ning adalah pakaian adat Jawa Timur. Pakaian adat ini biasa digunakan ketika kontes pemilihan bujang dan gadis atau Kontes Cak dan Ning. Dalam kontes tersebut, para pemenang akan menggunakan pakaian khas dari Surabaya.

Untuk pria, pakaian Baju Cak terdiri dari dua bagian, yaitu:

  1. Beskap
  2. Celana kain yang dilapisi dengan jarik

Di bagian dada kiri pada beskap pakaian Baju Cak ini terdapat saku yang biasa digunakan untuk menyematkan aksesoris kuku macan dan saputangan berwarna merah.

Adapun untuk wanita, pakaian Baju Ning terdiri dari tiga bagian, yaitu:

  1. Kebaya
  2. Jarik
  3. Kerudung selendang bermotif renda

Aksesoris yang digunakan oleh wanita ketika memakai Baju Ning adalah giwang atau anting, gelang, dan selop.

7. Odheng Santapan

Odheng Santapan merupakan aksesoris penutup kepala. Biasanya aksesoris penutup kepala ini digunakan sebagai pelengkap untuk pakaian adat pria.

Aksesoris ini berupa kupluk atau peci yang didesain dengan batik khas Jawa Timur. Motif batik yang digunakan adalah motif yang terkenal, seperti motif telaga biru atau storjoan berwarna merah soga.

Penggunaan desain warna cerah dan mencolok pada aksesoris ini menggambarkan karakter dari masyarakat Madura.

Sekilas bentuk odheng hampir sama dengan blankon, namun tetap memiliki beberapa sisi perbedaan.

Odheng Santapan didesain dengan bentuk segitiga dengan ukuran peci yang dapat diatur dan disesuaikan dengan kepala penggunanya.

Aksesoris yang satu ini memiliki simbol derajat kebangsawanan dari masyarakat Madura.

8. Odheng Tapoghan

Bentuk dari odheng tapoghan ini mirip dengan odheng santapan, tetapi ada perbedaan diantara keduanya. Aksesoris ini hanya dipakai oleh kaum pria.

Beberapa bagian dari aksesoris ini mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu terdapat benda semacam bunga yang memiliki hiasan cantik pada bagian depan. Selain itu, terdapat soga yang menjadi pengganti jika bunga tersebut tidak ada.

Bahan yang digunakan untuk membuat aksesoris ini adalah kain batik. Desainnya dapat divariasi sesuai selera dan keindahan.

Bentuk dari Odheng Tapoghan ini sangat mirip dengan Odheng Santapan, yaitu segitiga.

Aksesoris ini digunakan untuk menutup bagian atas atau kepala.

9. Penadon

Penadon adalah pakaian adat dari Jawa Timur yang berasal dari Ponorogo atau Kota Reog.

Penadon ini mirip dengan pesa’an madura namun tetap memiliki sisi perbedaan. Perbedaannya adalah kaos yang digunakan untuk Penadon ini adalah kaos belang merah putih dengan gambar khas kesenian Reog.

10. Celana Komprang

Selanjutnya, pakaian adat Jawa Timur yang ke-10 adalah Celana komprang. Celana ini berasal dari Kota Ponorogo. Biasanya celana ini digunakan untuk pasangan Baju Gothil.

Celana ini didesain dengan bentuk yang cukup menarik. Ukuran celana ini dibuat sangat longgar dengan teknik jahit yang khusus.

Pada bagian pinggangnya terdapat kolor yang terbuat dari bahan lawe dengan ujung yang menjuntai ke bawah.

Makna dari desain tersebut adalah untuk menambah kesan kegagahan para pemakai Celana Komprang tersebut.

11. Sarong Bahan

Sarong bahan adalah salah satu pakaian adat dari Jawa Timur yang disusun dari material kain dengan ukuran yang fleksibel.

Kain yang digunakan untuk membuat pakaian adat ini bermacam-macam, yaitu:

  1. Kain sutra
  2. Kain katun
  3. Kain satin

Untuk hasil terbaik, pilihlah bahan yang berkualitas tinggi agar nyaman ketika dipakai.

Desain warna untuk pakaian adat Sarong Bahan ini sangat mencolok dan bermacam-macam. Ada warna kuning keemasan, hijau, dan biru kotak-kotak dengan warna dasar putih.

Cara pemakaian pakaian adat ini ada dua macam, yaitu diselempangkan pada salah satu bahu dan dapat juga dipakai untuk kerudung penutup kepala.

12. Udeng Ponorogo

Udeng Ponorogo merupakan aksesoris untuk pakaian adat dari Ponorogo, Jawa Timur. Udeng Ponorogo ini memiliki nama lain, yaitu Udeng Wulung atau Udeng Warok.

Sebenarnya, menurut masyarakat Ponorogo, kata udeng memiliki makna ikat kepala saja. Namun, apabila sudah menjadi sebuah istilah udeng wulung atau udeng warok maka yang dimaksud adalah ikat kepala khas Ponorogo.

Warna yang digunakan pada aksesoris ini adalah hitam dengan motif putih selebar jari tangan yang terletak di bagian pinggir dan tengahnya.

13. Ikat Pinggang/Katemang Kalep

Ikat pinggang adalah aksesoris yang dipakai untuk mengencangkan celana atau sarung. Ikat pinggang pada pakaian adat ini juga sering disebut dengan sabuk katemang raja atau katemang kalep.

Ikat pinggang ini berbeda dengan ikat pinggang pada umumnya. Ciri-ciri ikat pinggang ini adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki desain bentuk yang lebar.
  2. Pada bagian depan ditambahi saku untuk menyimpang uang.
  3. Terbuat dari bahan dasar kulit hewan

Kulit yang digunakan biasanya adalah kulit sapi, namun tidak sembarangan kulit sapi. Kulit sapi yang dipilih adalah yang berkualitas tinggi dan biasanya berwarna coklat.

14. Alas Kaki/Tarompah

Aksesoris pakaian adat Jawa Timur yang terakhir adalah terompah/alas kaki. Aksesoris ini dapat digunakan oleh kaum pria maupun wanita.

Dengan memakai alas kaki, seseorang akan tampil lebih keren dan menarik.

Aksesoris ini memiliki bentuk yang terbuka dan longgar. Pada bagian ujung ditambahi penjepit yang berguna untuk menjepit jari-jari kaki agar nyaman ketika dipakai.

Bahan yang digunakan untuk membuat dan memproduksi terompah ini adalah kulit sapi yang berkualitas tinggi.

Demikian penjelasan tentang kebudayaan Jawa Timur. Semoga dapat membantu menambah wawasan dan bermanfaat bagi Anda.

Terimakasih.

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *